Site Loader
Rock Street, San Francisco

Identitas Mata Kuliah Terkait
Nama mata kuliah (SKS): Filsafat Ilmu (2sks)
Semester (muncul pada semester berapa): Semester Ganjil
Dosen pengampu: Dr. Happy Karlina Marjo, M.Pd., Kons.

Tujuan mata kuliah:
Setelah mengikuti perkuliahan ini, mahasiswa diharapkan:
Memiliki motivasi dan keinginan yang tinggi disertai kesadaran akan pentingnyamemahami, dan mempelajari filsafat ilmu berdasarkan keyakinan serta pengalamanhidupnya.

Memiliki dan mengembangkan sikap atau perilaku yang menunjang serta sinkrondengan keinginannya mempelajari serta mengembangkan filsafat ilmu.

Memiliki dan mengembangkan pengetahuan serta mengetahui dan menggalisumber-sumber pengetahuan beserta obyek, alat dan metode pembenarannya.

Memiliki dan mengembangkan keterampilan untuk mengenali, menganalisa danmemproduksi tesis-tesis dan anti-tesisnya serta melakukan sintesis-sintesis untuk memproduksi tesis-tesis baru berdasarkan pengembangan filsafat ilmu dalam konseling.

Memiliki dan mengembangkan pengalaman untuk merefleksikan diri dalamkomunitas sosialnya perihal motivasi, sikap, pengetahuan dan keterampilannya mengembangkan ilmu konseling.

Deskripsi mata kuliah:
Mata kuliah ini dimaksudkan untuk memberi kesempatan dan pelayanan kepada mahasiswa untuk melakukan analisis dan membangun pemahaman dan teori tentang filsafat ilmu.

Daftar topik/tema/pokok bahasan mata kuliah:
Kajian perkuliahan meliputi: (a) Persoalan-persoalan Pokok dalamPengembangan Ilmu, (b) Karakteristik Ilmu, (c) Obyek Ilmu, (d) Metode Pengembangan Ilmu, (e) Alat Pengembangan Ilmu, (f) Sejarah Perkembangan Ilmu, (g) Pre-Asumsi dan Asumsi Dasar Pengembangan Ilmu, (h) Sumber-sumber dan Batas-batas Pengembangan Ilmu, (i) Pembenaran Ilmu, (j) Prinsip-prinsip Pengembangan Ilmu, (k) Berbagai Aliran Pengembangan Ilmu, (l) Ontologi Ilmu, (m) Epistemologi Ilmu, (n) Aksiologi Ilmu, (o) Sejarah Bimbingan dan Konseling, dan (p) Filsafat Konseling.

Rencana Penulisan Buku Ajar
1. Judul buku:
Filsafat Ilmu (Pengembangan Filsafat Ilmu dalam Konseling)
2.Tujuan:
Memiliki dan mengembangkan pengetahuan dari berbagaisumber pengetahuan secara obyek, alat dan metode pembenarannya untuk mengembangkan keterampilan dalam menganalisa, memproduksi tesis-tesis dan anti-tesisnya berdasarkan pengembangan filsafat ilmu dalam konseling.

3. Deskripsi:
Bahan Ajar ini dapat memberi pengetahuan dan kesempatan pelayanan kepada mahasiswa untuk melakukan analisis, dan membangun pemahaman dari teori tentang filsafat ilmu yang berhubungan dengan filsafat konseling.
4.Daftar Pustaka yang akan dirujuk:
Anton Bakker &Achmad Charris Zubair (1990).Metodologi Penelitian Filsafat, Penerbit Kanisius tahun 1990
Belkin, G.S. (1981). Practical Counseling in The School. Lowa: WMC. Brown Company Publishers.

Bertrand Russel.(2007).Sejarah Filsafat Barat dan Kaitannya dengan Kondisi Sosio-Politik dari Zaman Kuno hingga Sekarang terj. Sigit Jatmiko, dkk, Cetakan III, Pustaka Pelajar: Yogyakarta.

Kant, I. (1781).Critic of Pure Reason, Translatedby J.M.D. Meiklejohn
Hadi, P. Hadono. (1994). Epistemologi (Filsafat Pengetahuan). Yogyakarta: Kanisius.

J. Suadarminta. (2002). Efistemologi Dasar: Pengantar Filsafat pengetahuan. Penerbit Kanisius.

Mayer, F. (1951). A History of Modern Philosophy. New York: American Book Company.

Perry, R.B. (1912).Present Philosophical Tendencies: A Critical Survey of Naturalism Idealsm Pragmatism and Realism Together with a Synopsis of the Pilosophy of William James. New York.

Outline Buku Ajar
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Berbagai kesalah dan kasus malpraktek yang terjadi dalam layanan konseling selama ini, seperti adanya anggapan konseling sebagai “ramalan”, atau berbagai persepsi lainnya yang keliru tentang konseling sangat mungkin memiliki keterkaitan erat dengan tingkat pemahaman dan penguasaan konselor sebagai landasan konseling. Dengan kata lain, penyelenggaraan konseling dilakukan secara asal-asalan, tidak dibangun di atas landasan atau konsep yang seharusnya. Upaya memberikan pemahaman tentang landasan konseling, khususnya bagi para konselor, melalui tulisan ini akan dipaparkan tentang beberapa filsafat konseling yang akan menjadi pijakan dalam setiap gerak langkah konseling.

Kata filosofis atau filsafat berasal dari bahasa Yunani, yaitu:Philos berarti cinta dan sophos berarti bijaksana. Jadi filosofis berarti kecintaan terhadap kebijaksanaan. Bisa diartikan filsafat sebagai suatu “usaha manusia untuk memperoleh pandangan atau konsepsi tentang segala yang ada, dan apa makna hidup manusia di alam semesta ini”. Senada yang dinyatakan oleh Loren Bagus (1998) bahwa fisafat suatu upaya untuk menentukan batas-batas atau jangkauan pengetahuan, seperti: sumber, hakikat, keabsahan, dan nilainya. Landasan filosofis merupakan landasan yang dapat memberikan arahan, dan pemahaman khususnya bagi konselor dalam melaksanakan setiap kegiatan layanan konseling yang lebih bisa dipertanggungjawabkan secara logis, etis maupun estetis. Filsafat mempunyai fungsi dalam kehidupan manusia, antara lain: (1) setiap manusia harus mengambil keputusan atau tindakan, (2) keputusan yang diambil adalah keputusan diri sendiri, (3) dengan berfilsafat dapat mengurangi salah paham dan konflik, dan (4) untuk menghadapi banyak kesimpangsiuran dan dunia yang selalu berubah.
Dengan berfilsafat seseorang akan memperoleh wawasan atau cakrawala pemikiran yang luas sehingga dapat mengambil keputusan yang tepat, prinsip-prinsip filosofis dalam konseling sebagai berikut: (1) konseling hendaknya didasarkan kepada pengakuan akan kesadaran dan harga diri individu serta hak-haknya untuk mendapat bantuan, (2) konseling merupakan proses yang berkesinambungan, (3) konseling harus respek terhadap hak-hak konseli, (4) konseling bukan prerogatif kelompok khusus profesi kesehatan mental dan spiritual, (5) fokus konseling adalah membantu individu dalam merealisasikan potensi dirinya, dan (6) konseling merupakan bagian dari pendidikan yang bersifat individualisasi, kelompok dan sosialisasi.

Landasan filosofis merupakan landasan yang dapat memberikan arahan dan pemahaman khususnya bagi konselor dalam melaksanakan setiap kegiatan layanan bimbingan dan konseling yang lebih bisa dipertanggungjawabkan secara logis, etis maupun estetis.Landasan filosofis dalam bimbingan dan konseling terutama berkenaan dengan usaha mencari jawaban yang hakiki atas pertanyaan filosofis tentang: apakah manusia itu ? Untuk menemukan jawaban atas pertanyaan filosofis tersebut, tentunya tidak dapat dilepaskan dari berbagai aliran filsafat yang ada, mulai dari filsafat klasik sampai dengan filsafat modern dan bahkan filsafat post-modern.

Berbagai aliran filsafat yang ada, para penulis Barat seperti Victor Frankl, Patterson, Alblaster & Lukes, Thompson & Rudolph (dalam Prayitno, 2003) telah mendeskripsikan tentang hakikat manusia sebagai berikut: (1) manusia adalah makhluk rasional yang mampu berfikir dan mempergunakan ilmu untuk meningkatkan perkembangan dirinya, (2) manusia dapat belajar mengatasi masalah-masalah yang dihadapinya apabila dia berusaha memanfaatkan kemampuan-kemampuan yang ada pada dirinya, (3) manusia berusaha terus-menerus mengemkembangkan dan menjadikan dirinya sendiri khususnya melalui pendidikan, (4) manusia dilahirkan dengan potensi untuk menjadi baik, dan buruk dalam hidup berarti upaya untuk mewujudkan kebaikan dan menghindarkan atau setidak-tidaknya mengontrol keburukan, (5) manusia memiliki dimensi fisik, psikologis dan spiritual yang harus dikaji secara mendalam, (6) manusia akan menjalani tugas-tugas kehidupannya dan kebahagiaan manusia terwujud melalui pemenuhan tugas-tugas kehidupannya sendiri, (7) manusia adalah unik dalam arti manusia itu mengarahkan kehidupannya sendiri, (8) manusia adalah bebas merdeka dalam berbagai keterbatasannya untuk membuat pilihan-pilihan yang menyangkut perikehidupannya sendiri. Kebebasan ini memungkinkan manusia berubah dan menentukan siapa sebenarnya diri manusia itu adan akan menjadi apa manusia itu, (9) manusia pada hakikatnya positif yang setiap saat, dan dalam suasana apapun, manusia berada dalam keadaan terbaik untuk menjadi sadar dan berkemampuan untuk melakukan sesuatu.

Dengan memahami hakikat manusia tersebut, maka setiap upaya layanan konseling diharapkan tidak menyimpang dari hakikat tentang manusia itu sendiri. Seorang konselor dalam berinteraksi dengan konselinya harus mampu melihat, dan memperlakukan konselinya sebagai sosok utuh manusia dengan berbagai dimensinya.

The New Grollier Webster international Dictionary (1971) menyatakan bahwa konseling berasal dari bahasa Latin, yaitu:cosiliumyang artinya memberi saran, informasi, opini, dialog atau pertimbangan yang diberikan oleh seseorang kepada orang lain dalam rangka membuat keputusan atau tindakan yang akan datang.

Secara historis, konsep konseling telah lama dikenal manusia melalui sejarah. Sejarah tentang pengembangan potensi individu dapat ditelusuri dari masyarakat Yunani kuno. Mereka menekankan upaya-upaya untuk mengembangkan dan menguatkan individu melalui pendidikan. Plato dipandang sebagain konselor Yunani Kuno karena dia telah menaruh perhatian besar terhadap masalah-masalah pemahaman psikologis individu seperti menyangkut aspek isu-isu moral, pendidikan, hubungan dalam masyarakat dan teologis.

Aktivitas dalam layanan bimbingan dan konseling agar tidak terjebak dalam berbagai bentuk penyimpangan yang dapat merugikan semua pihak, khususnya pihak para penerima jasa layanan konseling (konseli), maka pemahaman dan penguasaan tentang landasan bimbingan dan konseling khususnya oleh para konselor tampaknya tidak bisa ditawar-tawar lagi dan menjadi mutlak adanyaFilsafat konseling adalah bagian integral dari sistem filsafat, yang secara spesifik menyoroti tentang hakikat atau esensi komunikasi atau interaksi yang memberikan fasilitas serta kemudahan-kemudahan untuk pemahaman yang bermakna terhadap diri, karier dan lingkungan. Sebagai bagian dari sistem filsafat, secara metodologis filsafat ilmu dalam pengembangan konseling memiliki kedudukan yang kurang lebih setara dengan cabang-cabang filsafat lainya, seperti etika, filsafat sosial, epistemologi, estetika dan fisafat budaya. Tetapi secara ontologi, ia memiliki kedudukan yang relatif lebih penting, karena semua cabang filsafat tersebut pada prinsifnya tersebut bermuara pada persoalan asasi mengenai eksistensi manusia, yang tidak lain merupakan persoalan yang secara spesifik menjadi objek kajian pengembangan fisafat ilmu dalam konseling.

Dibandingkan dengan ilmu-ilmu tentang manusia (human studies), filsafat konseling mempunyai kedudukan yang kurang lebih “sejajar”, terutama kalau dilihat objek materialnya. Objek material filsafat konseling, dan ilmu tentang manusia (misalnya saja psikologi, sosial dan antropologi) adalah gejala-gejala manusia. Baik filsafat konseling dan ilmu-ilmu tentang manusia, pada dasarnya bertujuan untuk menyelidiki, menyikapi, menginterpretasi dan memahami gejala-gejala ekspresi manusia, baik merupakan objek kajian untuk filsafat konseling maupun untuk ilmu-ilmu tentang manusia.
Akan tetapi, tinjauan dari objek formal atau metodenya, kedua jenis “ilmu” tersebut memiliki perbedaan yang sangat mendasar. Secara umum dapat dikatakan, bahwa setiap cabang ilmu-ilmu tentang manusia mendasarkan penyelidikannya pada gejala-gejala empiris, yang bersifat “objektif” dan bisa diukur, gejala itu kemudian diselidiki dengan menggunakan metode yang bersifat observasional dan/atau eksperimental. Sebaliknya, filsafat konseling tidak membatasi diri pada gejala empiris. Bentuk atau jenis gejala apapun tentang manusia sejauh bisa dipikirkan secara rasional, tentunya bisa menjadi bahan kajian filsafat konseling. Aspek-aspek, dimensi-dimensi, dau nilai-nilai yang bersifat metafisis, spiritual dan metode-metode keilmuan, bisa menjadi bahan kajian terpenting bagi filsafat konseling. Aspek-aspek, dimensi-dimensi atau nilai-nilai merupakan sesuatu yang hendak dipikirkan, dipahami dan diungkap maknanya oleh filsafat konseling.

Karena luas dan tidak terbatasnya gejala manusiawi yang diselidiki oleh filsafat konseling, maka tidak mungkin kita mengunakan metode yang bersifat observasional dan/atau eksperimental. Observasional dan eksperimental hanya mungkin dilakukan, kalau gejalanya bisa diamati dan bisa dimanipulasi (misalkan dengan menggunakan metode statistik), dan bisa dimanipulasi (misalnya di dalam eksperimen-eksperimen dilaboratorium). Sedang aspek-aspek atau dimensi-dimensi metafisis, spiritual, dan universal hanya bisa diselidiki dengan mengunakan metode yang lebih spesipik, misalnya sintesis dan refleksi. Sintesis dan refleksi sejauh gejalanya bisa dipikiran, dan karena apa yang bisa dipikirkan jauh lebih luas daripada apa yang bisa diamati secara empiris, maka pengetahuan atau informasi tentang gejala manusia di dalam filsafat konseling, pada akhirnya, jauh lebih ekstensif (menyeluruh) serta instensif (mendalam) daripada informasi atau teori yang didapatkan oleh ilmu-ilmu tentang manusia.

Tujuan
Tujuan penulisan bahan ajar ini adalah untuk memberikan pemahaman atau pengetahuan tentang landasan-landasan apa saja yang digunakan dalam pengembangan filsafat ilmu dalam konseling, dan implikasinya terhadap penerapan Bimbingan dan Konseling itu sendiri.

Ruang Lingkup
The New Grollier Webster international Dictionary (1971) konseling berasal dari bahasa Latin, cosiliumyang artinya memberi saran, informasi, opini, dialog atau pertimbangan yang diberikan oleh seseorang kepada orang lain dalam rangka membuat keputusan atau tindakan yang akan datang.
Menurut Cavanagh (1982), konseling merupakan hubungan antara seorang penolong yang terlatih dan seseorang yang mencari pertolongan, di mana keterampilan si penolong dan situasi yang diciptakan olehnya menolong orang untuk belajar berhubungan dengan dirinya sendiri dan orang lain dengan terobosan-terobosan yang semakin tumbuh. Sejalan dengan yang dinyatakan oleh James F. Adam (dalam Prayitno 2004), konseling merupakan suatu pertalian timbal balik antara 2 orang individu dimana yang seorang (counselor) membantu yang lain (conselee) supaya ia dapat memahami dirinya dalam hubungan dengan masalah-masalah hidup yang dihadapinya waktu itu dan waktu yang akan datang.

Konseling adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh seorang ahli (disebut konselor/pembimbing) kepada individu yang mengalami sesuatu masalah (disebut konseli) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi konseli.Bisa dikatakan konseling merupakan sebuah program yang sangat penting dalam program bimbingan dan konseling. Program konseling merupakan program yang berusaha merespon secara aktif dan intensif berbagai permasalah yang ada di sekolah. Gisybers dan Henderson (2006) mengatakan bahwa program yang responsif merujuk pada kegiatan yang secara aktif merespons berbagai macam permasalahn yang muncul disekolah. Tujuan dari komponen ini adalah untuk berkomunikasi dengan siswa yang sedang memiliki masalah atau berpotensi memiliki masalah yang dapat mengganggu kesehatan pribadi, mental, karier, sosial dan spiritualnya. Permasalahan yang dihadapi siswa disekolah adalah belajar, karier, kehilangan anggota keluarga, kehadiran, putus sekolah, pelecehan dan bunuh diri.

Secara umum konseling berfungsi sebagai fasilitator, sarana yang memberikan kemudahan konseli maupun institusi. Secara khusus berfungsi sebagai kuratif (penyembuhan) bagi orang yang menderita gangguan karena tidak mampu memecahkan masalahnya baik secara klinis maupun nonklinis. Ada beberapa metode terapi yang biasa dipakai untuk menangani hal tersebut yaitu: psikoterapi, hipnoterapi dan layanan rujukan yang dianggap tepat dalam menangani masalah konseli.

Sedang ruang lingkup filsafat adalah alam berfikir atau alam pikiran. Berfilsafat adalah berfikir. Langeveld, dalam bukunya “Pengantar Pada Pemikiran Filsafat” (1959) menyatakan, bahwa filsafat adalah suatu perbincangan mengenai segala hal, yang ada hadir dalam dunia secara sistematis sampai ke akar-akarnya. Apabila dirumuskan kembali, filsafat adalah suatu wacana, atau perbincangan mengenai segala hal secara sistematis sampai konsekwensi terakhir dengan tujuan menemukan hakekatnya.
Dengan demikin kita bisa tentukan bahwa ruang lingkup filsafat konseling secara umum adalah segala pemikiran yang mendasari kegiatan pelayanan itu terjadi baik secara klinis maupun non klinis. Secara khusus filsafat konseling akan membicarakan mengenai motode-metode, etika, logika, epistemologi, ontologi, aksiologi, hakikat manusia dan hubungannya dengan sesama manusia.

Manfaat
Adapun manfaat yang dapat kita ambil dari bahan ajar ini, sebagai berikut:
Sebagai bahan masukan untuk mengetahui landasan-landasan yang terdapat dalam Filsafat Konseling khususnya dalam kajian Dasar-dasar Konseling dan Landasan Konseling.

Sebagai bahan masukan untuk para pembaca agar lebih memahami dasar-dasar konseling dan Filsafat Konseling.

Petunjuk Penggunaan Buku
Memuat langkah-langkah penggunaan bahan ajar filsafat ilmu dalam pengembangan konseling yang disajikan secara sistematis.

BAB II
RANAH PENGETAHUAN DAN ILMU
Capaian Pembelajaran
Mata kuliah ini bertujuan untuk mengembangkan kreatifitas mahasiswa mengenai; 1. Mengenal berbagai macam metode dalam memperoleh pengetahuan, ilmu dan keterampian ilmiah dengan menerapkan pemikiran filosofis, kritis dan logis; 2. Melampaui keterbatasan ilmu dan metode-metode ilmiah dan batasan-batsan moral, sosial, budya dalam memperoleh dan memanfaatkan pengetahuan. Dengan demikian filsafat ilmu mencakup pembahasan mengenai ontologi, epistemologi dan aksiologi ranah ilmu dan pengetahuan, serta perkembangan metode ilmiah. Pembahasan tentang ontolgi terfokus pada objek yang empirik seperti fakta, data, dan informasi yang bersifat aktual, serta kedudukannya dalam kegiatan ilmiah. Epistemologi ilmu terfokus pada metode ilmiah dan metodologi penelitian. Sedang aksiologi adalah ilmu yang membahas tentang nilai-nilai teoritis dan praktis baik secara internal maupun eksternal dalam dunia keseharian. Mata kuliah filsafat ilmu yang akan disajikan ini meuntut mahasiswa untuk:
Memiliki kepribadian yang baik dapat bekerjasama, berjiwa kepemimpinan, empati, dan bertanggungjawab dalam meningkatkan kualitas ilmu pengetahuan dan potesi dirinya
Dapat mengembangkan kajian kritis dan membuat strategi keilmuan dalam meningkatkan kualitas dan pegembangan keilmuan lebih lanjut
Memiliki kemampuan dalam mengembangkan pengetahuan dan teknologi di bidang keilmuan melalui riset, sehingga melahirkan karya inovatif yang ter uji.

Sub Capaian Pembelajaran
Mampu mengembangkan moral, etika, norma, dan kepribadian yang baik selama berlangsungnya perkuliahan
Mampu melaksanakan riset sebagai bagian dari tanggungjawab keilmuan
Mampu menumbukan kemandirian belajar dan menggunakan ITC dalam menyelesaikan tugas.

Mampu mengkaji konsep dasar filsafat ilmu yaitu: Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi.

Pokok-pokok Materi (peta konsep)
Sumber Kajian Filsafat ilmu meliputi 6 hal, yaitu”
Ontologi
Ontologi membahas hakikat yang ada. Teori-teori konseling dikembangkan berdasarkan paradigma filsafat yang dianut oleh para penggagas teori tersebut. Menurut Liang Gie (2010) filsafat ilmu merupakan pemikiran reflektif terhadap persoalan-persoalan yang menyangkut landasan ilmu maupun hubungan ilmu dengan segi kehidupan manusia. Landasan ilmu mencakup: konsep dasar, anggapan dasar, asas permulaan, struktur teoritis, dan kebenaran ilmiah.

Epistemologi
Epistemologi terkait dengan bagaiamana cara memperoleh pengetahuan. Konseling menyangkut proses perkembangan manusia yang berlandaskan kepada hakikat manusia itu sendiri. Konseling banyak mengandung isu filosofis. Seorang konselor harus berpegang pada landasa filsafat yang jelas, namun dia tetap harus menghindarkan diri dari faham “completism” (sempurna). Isu filosofis dalam konseling akan menentukan cara pandang konselor dalam membantu konseli.
Aksiologi
Aksiologi adalah analisis nilai-nilai, maksudnya dari analisis ini adalah membatassi arti, ciri-ciri, asal, tipe, kriteria dan status epistemologi dari nilai-nilai itu.
Logika
Logika konseling adalah ilmu bagaimana cara mengevaluasi argumentasi dan penalaran. Pemikiran kritis adalah proses evaluasi yang menggunakan logika untuk memisahkan kebenaran dari kepalsuan, masuk akal dari keyakinan yang tidak masuk akal. Jika kita ingin mengevaluasi dengan lebih baik berbagai klaim, gagasan dan argumen yang kita hadapi, kita memerlukan pemahaman logika dasar dan proses berpikir kritis yang lebih baik. Ini bukan pencarian mudah. Mereka sangat penting untuk membuat keputusan yang baik dan membentuk keyakinan yang baik tentang dunia keseharian.

Etika
Julianto Simanjuntak (2007: 389-399) Etika konseling merupakan suatu aturan yang harus dilakukan seorang konselor dan hak-hak klien yang harus dilindungi oleh seorang konselor. Selama proses konseling berlangsung, seorang konselor harus bertanggung jawab terhadap kliennya dan dirinya sendiri. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu konselor harus bertanggung jawab untuk memberi perhatian penuh terhadap klien selama proses konseling. Konselor tidak boleh melakukan konseling ketika kondisi fisik dan psikienya kurang baik dan memiliki masalah pribadi dengan klien. Mengapa demikian? Itu karena di dalam konseling, kita membutuhkan konsentrasi yang penuh.
Estetika
Estetika konseling adalah salah satu konsep  yang membahas seni mempedulikan konseli menyampaikan segala maslahnya bisa ita sebut juga dengan empati. Estetika konseling merupakan ilmu yang membahas bagaimana komunikasi bisa terbentuk, dan bagaimana supaya dapat merasakannya. Estetika adalah sebuah filosofi yang mempelajari nilai-nilai sensoris yang kadang dianggap sebagai penilaian terhadap sentimen dan rasa.
Uraian Materi
Setiap manusia dari memiliki rasa ingin tahu yang sangat tinggi, sehingga dorongan untuk tahu tidak hanya disadari tetapi benar-benar diwujudkan dalam sebuah karya. Aristoteles mewudkan rasa ingin tahunya dengan menulis buku metafisika. Dua generasi sebelumnya, Socrates meniti kalir filosofisnya dengan mengajukan pertanyaan pada kaum muda Yunani tentang kebenaran. Orang Delphi mengatakan bahwa tidak ada manusia lebih bijaksana selain Socrates, hal ini diartikan sebagai berikut: tidak ada manusia yang mempuyai pengetahuan, tapi sementara orang lain mengira bahwa mereka memiliki pengetahuan, padahal Socrates sendirilah yang tahu bahwa dia tidak tahu.
Selintas dapat kita lihat bahwa ada dua pandagan yang saling bertentangan mengenai hakikat manusia: disatu pihak, suatu asumsi yang menegaskan tentang ketidaktahuan umum sebagai kenyataan hakikat manusia. Di pihak lain, suatu pernyataan menegaskan keinginan umum untuk tahu dan keinginan itu dapat diwujudkan dalam sebuah karya.
Plato mengatakan bahwa filsafat dimulai dengan rasa kagum. Tidak ada satu orang pun yang berfilsafat jika dia tidak bisa kagum. Rasa kagum yang kita bicarakan dalam hal ini tidak boleh disamakan dengan keingintahuan dalam pengertian umum. Rasa kagum ini pun tidak bisa kita maknai dengan kepanikan orang yang bingung seperti melihat mesin atau robot yang canggih, misalnya robot penghacur rumput dan mesin pendikteksi gunung meletus. Rasa kagum filosofis terutama bukan pada hal-hal yang canggih, rumit dan modern, tetapi terhadap sesuatu yang sederhana, konkret, yang tampaknya jelas di dalam pengalaman keseharian. Justru di dalam dunia keseharian inilah pernyataan-pernyataan filosofis muncu.
Akibatnya kita selalu berhadapan dengan sifat yang saling mempengaruhi antara yang dekat dan yang jauh, yang memaknai setiap pengalaman murni, pengalaman filosofis. Rasa kagum terhadap hal-hal yang bersifat kongkret dan jelas, tetapi seolah-olah mulai dengan suatu pengambilan jarak terhadap yang jelas. Dalam arti tertentu tidak ada yang lebih aneh dari pada mempertanyakan sesuatu yang sudah ada hadir dihadapan kita. Asumsi umum mengatakan bahwa jika sesuatu ada hadir, maka kita mengetahui ke-ada-an dan kehadinnya, dan kesannya kita telah tahu hakikat benda itu agar kita dapat mempertanyakan dan mempersoalkan apa itu, bagaimana itu dan kenapa seperti itu.

Hal itulah yang didiskusikan Plato dalam Meno. Untuk menemukan sesuatu yang kita cari, kita harus tahu apa yang kita cari. Pada titik inilah kita dapat mengenalinya sebagai jawaban yang benar, dan oleh karena itu kita harus mengetahuinya. Hal ini merupakan langkah kritis dalam menegaskan benda-benda yang dianggap tahu. Agustinus memberikan contoh yang sangat terkenal yaitu tentang waktu. Jika tak seorang pun yang menyukaiku, saya tahu: jika saya ingin tahu. Sebagian besar filsafat terdiri dari persoalan-persoalan yang telah kita ketahui. Tentu saja saya tahu arti kata “aku”, “diri”, “ada”, “materi”, ruang dan “waktu”. Maksudnya adalah bahwa kita mengetahuinya, kalau tidak seorang pun meminta penjelasan mengenai hakikatnya. Apa yang kita ketahui merupakan apa yang diketahui oleh banyak orang. Dengan kata lain, tak satupun benar-benar mengetahuinya.

Jika filsuf menarik diri dari kejelasan yang bersifat umum, mereka melakukannya untuk memotivasi dirinya ke dalam kesegaran eksistensial sebagaimana terlukis di dalam keadaan aslinya yang selalu dipengaruhi dalam pengalaman. Menuju ketegasan inilah filsuf bergerak dalam rasa kagumnya. Dia berusaha merenungkan eksistensi dalam setiap kehadirannya. Eksistensi selalu berada di sana untuk dipikirkan, selalu ada hadir dalam ruang dan waktu, selalu memberikan makna, tetapi selalu belum terpikirkan secara tuntas. Sebagaimana dikatakan Martin Heidegger, ‘manusia adalah paling aneh, karena merupakan mahluk paling dekat dan paling jauh dari rahasia segala yang dialaminya.

Pernyataan Socrates dan Aristoteles tampaknya tidak jauh berbeda, mengenai hakikat manusia. Aristoteles membayangkan kesadaran Socratis bahwa kita belum tahu, bahwa dunia keseharian adalah satu bidang pengetahuan semu. Yang jelas pengetahuan filosofis yang dibicarakan tidak dapat dicapai dengan sikap yang dimiliki oleh budi yang bekerja di dalam kegiatan harian. Unsur kekaguman berdasarkan eksistensi merupakan bagian dari pernyataan filosofis dan tidak ada pengetahuan filosofis yang tercapai kecuali sebagian bagian integral (menyeluruh) dari rasa kagum.
Filsafat merupakan sebuah usaha berpikir kritis dalam menemujan jawaban dari persoalan-persoalan yang kita alami. Seperti yang dikatakan oleh Plato dalam alegori guanya. Filsafat merupakan upaya untuk menyingkap kesadaran akan eksistensi diri, menempatkan manusia pada tempatnya. Rasa kagum yang dimiliki merupakan alat dalam menyingkap segala hal yang mereka bisa ketahui. Dari sudut inilah kita dapat mengatakan bahwa filsafat ilmu sama luasnya dengan fisafat. Usaha penyelidikan dan penyingkapan selalu seiring dengan usaha untuk menentukan apa yang saya ketahui di bidang tertentu. Filsafat bisa kita kata sebagai refleksi. Dan refleksi selalu bersifat kritis. Maka kita tidak mungkin mempunyai metafisika yang sekaligus epistemologi dari metafisika, atau psikologi tidak mungkin sekaligus epistemologi dari psikologi, atau dari sains yang bukan epistemologi dari sains itu sendiri.
Dalam arti lain, terdapat penjelasan tertentu yang menjadi objek kajian epistemologi itu sendiri sebagai suatu manifestasi dari penyelidikan filsafat. Pada titik ini upaya Descartes memberikan angin segar dalam sejarah pemikiran. Karena Descartes berusaha untuk menjelaskan bahwa kekaguman filosofis sendirilah yang menjadi objek penyelidikannya. Dari pada sekedar kagum terhadap kenyataan perubahan, waktu dan diri sendiri. Fisafat mengagumi penge-tahu-an sendiri. pernyataan manusia kembali pada diri sendiri. zaman baru diawali pada saat Descartes menjadikan manusia sebagai objek penyelidikan. Descartes mengajukan beberapa pertanyaan, yaitu; bagaimana saya tahu bahwa saya dapat tahu? Apa hak saya untuk bertanya? Dia mengatakan, mungkin rasa kagumku tidak mempunyai hak untuk ada, mungkin tak ada gunanya, dan saya selamanya tertutup dari kenyataan yang saya usahakan untuk saya pahami.

Kedudukan Filsafat Ilmu Konseling
Apa itu filsafat ilmu koseling? Dalam studi awal filsafat ilmu konseling tentu saja kita akan menjelaskan tentang persoalan atau masalah yang muncul misalnya: apa itu filsafat ilmu konseling? Dengan pertanyaan itu kita telah memasuki ranah filsafat ilmu konseling, karena pertanyaan yang dirumuskan dengan apa merupakan pertanyaan mendasar dalam filsafat ilmu konseling. Pertanyaan demikian dijawab dengan pengertian, pengertian rumuskan dengan definisi.

Filsafat ilmu konseling itu adalah pengetahuan berkomuikasi/interaksi, menafsir dan memaknai sebuah objek. Filosof menjelaskan sebuah idenya, membangun fondasi pemikiran, membentuk suatu sistem pengetahuan. Untuk lebih mudah memahami pengertiannya dan menegaskan pengetahuan, baiklah mari kita berkenalan terlebih dahulu dengan filsafat ilmu konseling.

Apa itu pengetahuan? Sebelum kata ini kita bahas, marilah kita kemukakan terlebih dahulu jawaban semantik terhadap pertanyaan itu. Pengetahuan adalah apa yang diketahui atau hal pekerjaan tahu. Hasil pekerjaan tahu itu Adalah hasil dari: kenal, sadar, paham, mengerti. Dapat kita simpulkan bahwa semua yang kita tahu, terpikirkan secara sadar itu adalah pengetahuan, sederhananya pengetahuan adalah segala sesuatu yang kita ketahui secara sadar.
Donny Gahral Adian (2002: 41-45) Pengetahuan manusia dapat kita bagi menjadi empat kategori yaitu: pengetahuan rasional, pengetahuan empiris, pengetahuan kritis (kantianisme) dan pengetahuan intuisi. Baik mari kita uraikan satu persatu.

Rasionalisme
Ilmu sering dikaitkan dengan rasionalisme karena justru dalam ilmu akallah yang tampil (tergambarkan), lebih dari kemampuan, kemauan, perasaan atau intuisi. Dalam arti sempit “Rasionalisme” artinya anggapan mengenai teori pengetahuan yang menekankan akal (rasio), untuk membentuk suatu pengetahuan. Ini berarti sumbangan akal lebih besar daripada sumbangan indera, kadang-kadang sedemikian rupa sehingga diterima adanya struktur bawaan (ide, kategori). Mengenai ilmu diketengahkan oleh rasionalisme bahwa mustahillah membentuk ilmu hanya berdasarkan fakta, data empiris atau pengamatan. Itu semua tidak cukup untuk menyusun pernyataan-pernyataan umum yang berlaku mutlak, seperti sering terjadi di dalam ilmu.

Leibniz mengatakan bahwa pembuktian matematis tidak bergantung pada gambar, tetapi gambar sangagt berguna untuk memberikan informasi pada akal tentang ebuah objek. Yang paling penting untuk ilmu-ilmu lain, seperti untuk optika dengan penerapan matematik, untuk mekanika dengan kaidah-kaidah umum, untuk ilmu politik dengan bahasa umum. Leibniz menyimpulkan bahwa dengan bertolak dari unsur-unsur kebetulan mustahillah tertib ilmiah, jika akal sendiri tidak memberikan struktur. Jadi data empiris kurang menyediakan dasar bagi keteraturan ilmiah.

Kaum rasionalis pada umumnya mengagumi keniscayaan kebenaran penalaran deduktif sebagaimana terdapat dalam logika, matematika, dan fisika yang sifatnya apriori. Kebenaran tentang semesta mereka yakini tidak berasal dari pengalaman empiris melainkan dari pikiran yang menghasilkan ide-ide yang jelas dan tegas, dari situ dapat dihasilkan kebenaran-kebenaran turunan tentang semesta. Asumsi dasar kaum rasionalis tentang hubungan manusia adalah adanya keselarasan antara pikiran dan semesta atau terdapat hubungan korespondensi antara struktur pikiran manusia dan struktur matematika.
Empirisme
Loren Bagus (1996: 197) secara etimologi empirisme berasal dari kata Yunani “empeiria” yang berarti “pengalaman”. Berlawanan dengan rasionalisme yang memandang akal budi sebagai satu-satunya sumber dan penjamin kepastian kebenaran pengetahuan, empiris memandang hanya pengalaman inderawi sumber pengetahuan manusia. Bagi empirisme, pengalaman inderawi adalah satu-satunya sumber dan penjamin kepastian kebenaran pengetahuan. Karena sumber pengetahuan adalah pengalaman maka metode yang diajukan kaum empiris adalah verifikasi-induktif.
David Hume, John Locke, dan Bishop Berkeley adalah tokoh-tokoh penting empirisme yang cukup terkemuka. Dalam satu artikenya John locke menyatakan bahwa otak manusia sewaktu ia lahir masih kosong melompong bagaikan kertas putih (tabula rasa). Suatu ranah yang kemudian diisi oleh pengetahuan yang berasal dari pengalaman. Locke menegaskan bahwa ide yang terdapat diotak kita menurutnya didapatkan melalui pengalaman atau dengan kata lain secara aposteriori bukan apriori.

Locke juga membagi ide manusia menjadi dua bagian yaitu; ide sederhana dan ide kompleks. Ide sederhana adalah ide yang secara langsung kita dapatkan lewat pengalam terhadap ide-ide inderawi, sedangkan ide kompleks adalah refleksi terhadap ide-ide sederhana tersebut sehingga kita dapat membentuk pengetahuan tentang dunia.

David Hume (1711-176) dalam bukunya An Enquiry Concerning Human Understanding, ada sebuah digtum “Nihil Est Intelectu Quod Non Antea Fuerit In Sensu” artinya”tidak ada satupun ada dalam pikiran yang tidak terlebih dahulu terdapat pada data-data inderawi”. Hume melakukan memilah antara data-data indrawi (sense) dan ide. Data-data inderawi merupakan potret (gambaaaran) yang jauh lebih kuat daripada ide yang sifatnya samar-samar. Misalnya ide kita tentang kursi, meja menurut Hume jauh lebih lemah dan kabur daripada persepsi kita terhadap kursi, meja. Dari situ bisa kita lihat Hume membedakan antara ide dengan data inderawi sederhana dan ide dengan data indrawi kompleks. Itulah metode ilmiah yang digunakan oleh Hume untuk menyingkap sebuah data.
Kantianisme
Kantianisme adalah filsafat pengetahun yang di pelopori oleh Immanuel Kant. Dalam filsafatnya Kant mengatakan bahwa pengetahuan manusia berasal dari kemampuan menganalisis data. Dan Kant menyebut filsafatnya revolusi copernican. Ia mengatakan bahwa pengetahuan merupakan sebuah keputusan. Keputusan adalah operasi pikiran yang menghubungkan antara subjek dan predikat, dimana predikat menjelaskan subjek. Ketika kita mengatakan, “Desy bertubuh gemuk” kita membuat suatu keputusan dengan menghubungkan subjek “Desy” dan predikat “gemuk”.

Keputusan terbagi menjadi dua tipe, keputusan sintetik dan analitik. Keputusan sintetik adalah nama lain yang diberikan Kant bagi pengetahuan berdasarkan pengamatan faktual yang disebut Hume. Keputusan sintetik sendiri didefinikan oleh Kant sebagai keputusan yang mana predikat tidak terkandung dalam konsep subjek. Ini artinya predikat menambahkan sesuatu yang baru pada subjek. Proposisi “tubuh si Desy berat” adalah salah satu contoh pengetahuan sintetik dimana predikat “berat” menambahkan sesuatu pada subjek “Tubuh si Desy”. Keputusan analitik adalah nama lain yang diberikan oleh Kant terhadap konsep Hume tentang pengetahuan berdasarkan relasi ide. Keputusan analitik didefinisikan oleh Kant sebagai keputusan dimana predikat sudah terkandung dalam subjek. Proposisi “semua tubuh berkeluasan” adalah salah satu contoh keputusan analitik dimana predikat “berkeluasan” sudah terkandung dalam subjek “semua tubuh”. Pada titik ini Kant sepakat dengan Hume bahwa keputusan analitik bersifat apriori. Namun Kant tidak sepakat dengan Hume yang menyatakan bahwa semua keputusan bersifat aposteriori yang artinya membutuhkan pengalaman. Menurutnya kita tidak dapat menyangkal keputusan sintesi yang bersifat apriori dan mungkin tidaknya keputusan tersebut harus diselidiki.
Kant membagi pengetahuan manusia menjadi dua sumber utama dalam benak yakni, fakultas pencerahan dan fakultas pemahaman yang membuat keputusan-keputusan tentang data-data inderawi yang didapat melalui fakultas pertama. Kedua fakultas tersebut saling membutuhkan. Tanpa fakultas pencerahan tidak ada objek yang diberikan kepada kita, tanpa fakultas pemahaman tidak ada objek yang dipikirkan. Kerja fakultas pencerahan adalah menerima data-data inderawi yang masuk dan menatanya dengan kategori ruang dan waktu. Kerja fakultas pemahaman adalah menyatukan dan mensintesiskan pengalaman-pengalaman yang telah diterima dan ditata oleh fakultas pencerahan. Fakultas pemahaman bekerja dengan kategori-kategori apriori untuk menata pengalaman-pengalaman yang masuk menjadi suatu keputusan. Pengalaman-pengalaman yang masuk diputuskan oleh fakultas pemahaman melalui kategori-kategori sebagai berikut: 1. Kuantitas, 2. Kualitas, 3. Relasi dan 4. modalitas. Dengan demikian Kant menentukan model penelitian untuk mengembangkan ilmu pengetahuan manusia.

Intusi
Untuk mendalami hakikat segala kenyataan diperlukan intuisi. intuisi adalah pengetahuan atau insigt (pemahaman), suatu kemampuan untuk memiliki pegetahuan segera dan langsung tentang sesuatu tanpa menggunakan rasio (akal). Intuisi adalah naluri tanpa menggunakan paca indera, pengalaman biasa atau akal budi kita. Intuisi merupakn sebuah bentuk pemikiran yang berbeda dengan pemikiran akal, sebab pemikiran intuisi bersifat dinamis. Fungsi intuisi ialah untuk mengenal hakikat pribadi atau ‘aku’ dengan lebih murni dan untuk mengenal hakikat seluruh kenyataan.
        Akal, jika ingin mengerti keadaan suatu kenyataan, kenyataan itu harus dianalisis, dibongkar dalam banyak unsur. Unsur yang satu dibedakan dengan yang lain, dipisahkan dari yang lain, dan ditempatkan yang satu di samping yang lain serta sesudah yang lain, artinya akal memikirkan kembali unsur-unsur itu dalam ruang dan waktu. Kerja akal yang demikian itu oleh Bergson disebut kerja yang sinematografis.

Dari uraian di atas kita bisa simpulkan bahwa filsafat ilmu konseling merupakan sebuah upaya membangun pengetahuan berkomunikasi/interaksi, membangun fondasi pemikiran, dan membentuk suatu sistem pengetahuan dalam menangani masalah-masalah yang sedang dihadapi oleh klien.
Pengertian dan Definisi
Menyoal pengertian filsafat ilmu, terdapat perbedaan pendapat antara para ahli. Hal ini tentunya tidak aneh, sedang pengertian kata-kata yang menunjukkan barang-barang yang konkret pun orang sukar untuk satu persepsi apa lagi mengenai kata-kata yang menyimbolkan hal yang bersifat abstrak. Apa definisi meja, kursi, pohon mangga, baju, mobil, air? Itu adalah barang-barang yang langsung disentuh oleh indra. Namun demikian sukar kita memberikan pengertian. Apa definisi sosial, budaya, ekonomi, politik, ilmu, teknologi, seni, cemas, takut, ragu, marah, senang? Apalagi kata-kata ini yang hanya ada dalam pikiran kita saja, tidak ada wujudnya. Misalnya definisi emosi. Sudah banyak penelitian mengenai yang membahas mengenai emosi, namun definisi emosi masih belum terumuskan dengan sitematis.
Plato mengatakan, filsafat adalah cara berpikir kritis untuk mengetahui segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada. Dalam periode Plato belum berkembang diferesiasi pengetahuan. Belum ada batas antara ilmu dan filsafat, yang dituntut dari seorang filosof, hanyalah ia harus ahli atau profesional dalam ilmu. Baru tersedia kemungkinan baginya untuk berfilsafat.

Aristoteles beranggapan bahwa tugas filsafat ialah menyelidiki sebab dan asas segala benda. Dengan demikian filsafat bersifat ilmu yang umum. Tugas penyelidikan tentang sebab telah dibagi sekarang oleh filsafat dengan ilmu. Filsafat adalah pengetahuan tentang hakikat realitas dan disiplin ilmu yang akan membantu kita untuk melihat apa yang ada dan untuk menyusun apa yang kita lihat. Dengan demikian Filsafat dikatakan induk segala ilmu. Persoalan-persoalan atau masalah-masalah yang dibicarakan filsafat dapat menggerakkan para ahli untuk melakukan riset. Hasil riset menumbuhkan ilmu.

Tiga definisi filsafat ini cukup untuk menggambarkan apa kajian fisafat itu? Sekarang mari kita lihat bagaimana definisi konseling menurut beberapa ahli:
C. Patterson (1959) mengatakan bahwa konseling adalah proses yang melibatkan hubungan antar pribadi antara seorang terapis dengan satu atau lebih konseli dimana terapis menggunakan metode-metode psikologis atas dasar pengetahuan sistematik tentang kepribadian manusia dalam upaya meningkatkan kesehatan tentang kepribadian manusia dalam upaya meningkatkan kesehatan mental konseli.
Edwin C. Lewis (1970) mengatakan bahwa konseling adalah suatu proses dimana orang bermasalah (konseli) dibantu secara pribadi untuk berperilaku lebih baik melalui interaksi dengan seseorang konselor yang menyediakan informasi dan reaksi-reaksi yang memotivasi konseli untuk mengembangkan perilaku-perilaku yang memungkinkan berhubungan secara lebih efektif dengan dirinya dan lingkungannya. Definisi ini juga melihat konseling sebagai suatu proses yang melibatkan interaksi antara konselor dan konseli dalam suatu upaya bersama agar lebih efektif dalam berhubungan dengan dirinya dan lingkungannya.

Rogers dalam Hendrarno (2003:24), menyatakan bahwa konseling merupakan rangkaian-rangkaian kontak atau hubungan secara langsung dengan individu yang tujuannya memberikan bantuan dalam merubah sikap dan tingkah lakunya.
Konseling merupakan suatu proses untuk membantu individu mengatasi hambatan-hambatan perkembangan dirinya dan untuk mencapai perkembangan yang optimal kemampuan pribadi yang dimilikinya, proses tersebut dapat terjadi setiap waktu. Suatu pertemuan langsung dengan individu yang ditujukan pada pemberian bantuan kapadanya untuk dapat menyesuaikan dirinya secara lebih efektif dengan dirinya sendiri dan lingkungannya.
Konseling meliputi pemahaman dan hubungan individu untuk mengungkapkan kebutuhan-kebutuhan, motivasi dan potensi-potensi yang unik dari individu dan membantu individu yang bersangkutan untuk mengapresiasikan ketiga hal tersebut. (Berdnard ; Fullmer ,1969)
Kita sudah melihat beberapa definisi filsafat dan konseling dari kedua definisi tersebut memberi gambaran pada kita bahwa ruang lingkup fisafat dan konseling yaitu masalah-mamsalah atau persoalan-persoalan manusia yang ada hadir dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikin kita dapat memberikan definisi sementara untuk filsafat ilmu konseling.
Filsafat ilmu konseling merupakan penyelidikan kritis atas pengandaian-pengandaian dan pernyataan-pernyataan yang diajukan oleh berbagai bidang pengetahuan.
Filsafat ilmu konseling itu adalah pengetahuan berkomuikasi/interaksi antara konselor dengan konseli. Filosof menyusun buah pikirannya, membangun fondasi pemikiran, membentuk suatu sistem pengetahuan yang kita miliki.
Filsafat ilmu konseling sendiri dapat didefinisikan sebagai upaya mencari atau memperoleh jawaban dari berbagai pertanyaan lewat penalaran sistematis yang kritis, radikal, reflektif, dan integral. Agar proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh seorang ahli (konselor) kepada individu yang mengalami sesuatu masalah (konseli) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi klien.

Objek Formal Dan Material Filsafat ilmu konseling
Loren Bagus (1996: 730) Secara etimologi objek berasal dari bahasa Latin objektus dari objicere (melempar kemuka, menempatkan berhadapan, membantah) dari ob (terhadap) dan jacere (melempar). Kita tidak bisa menarik makna istilah ini secara etimologinya saja, karena sudah mengalami perubahan besar. Arti yang biasa dipakai sekarang adalah apa yang berada pada dirinya, sebagai suatu hal /benda di luar pikiran.
Secara harpiah, objek artinya apa yang “terlempar dihadapan” seseorang. Dan karenanya, objek sebenarnya menunjukkan pada suatu hubungan dengan orang lain. Teminologi filosofi tidak mengunakan kata itu hanya sebagai sinonim dari kata “benda” (thing), melaikan yang sebenarnya terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam arti lebih luas objek adalah segala sesuatu yang menjadi sasaran atau segala sesuatu yang di tunjuk. Dengan kata lain, objek adalah sesuatu yang menjadi sasaran intensionalitas kekuatan jiwa, kebiasaan atau bahkan ilmu tertentu. Objek adalah tujuan tindakan (daya, kebiasaan, ilmu) sebagai tindakan. Karena itu, eksisten yang dipahami secara murni sebagai eksisten (benda) bukan merupakan objek. Eksisten baru menjadi objek apabila eksisten itu sugguh-sungguh di ketahui dan diinginkan.

Objek bisa kita bedakan menjadi dua objek material dan objek formal. Objek material adalah eksisten konkret seutuhnya yang merupakan sasaran intensionalitas subjek (kajian). Objek formal adalah ciri atau aspek khusus (bentuk) yang ditonjolkan untuk menyimak keutuhan sebuah kajian (esensi ilmu). Jika kita membicarakan tentang filsafat ilmu konseling yang sistematis, pasti ada kejelasan mengenai objeknya. Baik mari kita lihat apa objek material dan formal filsafat ilmu konseling:
Objek Formal Filsafat ilmu Konseling
Asal usul, struktur, metode,  dan validitas ilmu
Objek Material Filsafat ilmu Konseling
Hakikat (esensi) ilmu pengetahuan artinya filsafat ilmu konseling lebih menaruh perhatian terhadap problem mendasar yakni; interaksi, hakikat manusia, bagaimana cara memperoleh kebenaran ilmiah dan apa makna manusia dalam dunia keseharian.

Sumber Kajian Filsafat ilmu konseling
Ontologi
Ontologi membahas hakikat yang ada. Teori-teori konseling dikembangkan berdasarkan pemahaman filsafat yang dianut oleh para penggagas teori tersebut. Menurut Liang Gie (2010: 8) filsafat ilmu merupakan pemikiran reflektif terhadap persoalan-persoalan yang menyangkut landasan ilmu maupun hubungan ilmu dengan segi kehidupan manusia. Landasan ilmu mencakup: konsep dasar, anggapan dasar, asas permulaan, struktur teoritis, dan kebenaran ilmiah.

Filsafat ilmu konseling melandasi praktek konseling sebagai frame of thinking dalam melakukan layanan yang diberikan. Landasan filosofis merupakan landasan yang dapat memberikan arahan dan pemahaman khusus bagi konselor dalam melaksanakan setiap kegiatan bimbingan dan konseling yang lebih bisa dipertanggungjawabkan secara logis, etis maupun estetis. Landasan filosofis dalam konseling terkait dengan usaha mencari jawaban yang hakiki atas pertanyaan filosofis tentang: apa masalah itu? apa hakikat masalah itu? Bagaimana masalah bisa muncul? Apa dampak masalah terhadap perkembangan individu? Apa makna masalah buat klien? Untuk menemukan jawaban atas pertanyaan filosofis dalam konseling, tentu saja tidak dapat dilepaskan dari berbagai layanan konseling yang ada, mulai dari konseling individu sampai dengan konseling kelompok.

Kajian filsafat ilmu konseling terfokus pada pengembangan (perilaku) individu untuk mewujudkan kebermaknaan diri dalam lingkungan, membantu individu berkembang secara efektif. Pertanyaan mendasar filosofis dalam konseling terkait dengan peran ganda konselor, yaitu sebagai fasilititator pilihan dan kebebasan individu serta pengembangan perilaku individu di sisi lain.
Filsafat ilmu konseling bersumber dari masalah-masalah atau persoalan-persoalan hidup manusia, kebermaknaan eksistensi manusia dan filsafat tentang hakikat manusia. Ragam penafsiran dalam memahami hakikat manusia dapat digolongkan ke dalam tiga model (Wakhudin, 2014: 155) yaitu:
Penafsiran rasionalistik atau klasik, bersumber dari filsafat Yunani dan Romawi, yang memandang manusia sebagai makhluk rasional dan manusia difahami dari segi hakikat dan keunikan pikirannya. Pandangan ini merupakan pandangan optimistik, terutama mengenai keyakinan akan kemampuan berpikirannya.

Penafsiran teologis melihat manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Penafsiran ini tidak melihat manusia dari segi keunikan pikiran atau hubungannya dengan alam.

Penafsiran ilmiah yang diwarnai ragam sudut pandang keilmuan, antara lain ilmu-ilmu fisik yang menganggap manusia sebagai bagian dari alam fisikal sehingga harus difahami dari segi hukum fisik dan kimiawi.
Teori konseling dibangun dari landasan filosofi tentang hakikat manusia, teori kepribadian, teori perkembangan belajar, pemahaman sosio-antropologi-kultural, serta sistem nilai dan keyakinan. Teori konseling pada akhirnya harus merupakan “personal theory” atau “world view” dari konselor yang merefleksikan keterpaduan antara aspek pribadi dan profesi sebagai satu keutuhan.
Epistemologi
Epistemologi menjelaskan bagaiamana cara memperoleh pengetahuan dan objeknya. Konseling menjelaskan proses perkembangan manusia yang berlandaskan kepada hakikat manusia itu sendiri. Proses konseling adalah proses yang bergerak kearah yang selalu mengandung persoalan/masalah filosofi.
Seorang konselor harus berpegang pada filsafat yang jelas, namun dia tetap harus menolak faham “completism”(merasa diri sudah sempurna). Isu filosofis dalam konseling akan menentukan cara pandang konselor dalam membantu konseli.
Isu pribadi konselor terkait dengan hubungan antara konsep diri dan tujuan konselor, serta teknik yang digunakan untuk mencapai tujuan tersebut. Metode dan teknik konseling merupakan refleksi filosofi konselor. Isu hakikat manusia terkait dengan isu religius dan menyangkut bagaimana konselor memaknai manusia.
Aksiologi
Aksiologi menyangkut nilai kegunaan. Jika kita mengamati secara dalam tentang arti bimbingan, kita dapat mempersiapkan masa depan klien dari awal, sesuai dengan arah tujuan yang akan dicapai. Hal tersebut terbentuk dari dalam diri yang berupa bakat bawaan maupun pengaruh dari lingkungan masyarakat. Keadaan yang senantiasa berubah pada individu itulah yang perlu mendapat perhatian bimbingan, sehingga dapat diarahkan untuk menentukan pilihan-pilihan hidupnya. Hal itu merupakan suatu gambaran singkat mengenai kondisi individu yang perlu diperhatikan sebelum kita memberikan konseling.

Landasan filosofi terkait dengan pandangan tentang hakikat manusia yang melandasi konselor dalam memahami dan memperlakukan konseli serta merumuskan tujuan universal layanan konseling. Tujuan khusus dari sebuah perjumpaan layanan konseling ada pada konseli, namun tujuan universal ada pada konselor, yang didasarkan atas pandangannya terhadap hakikat manusia, dan menjadi dasar untuk memfasilitasi konseli dalam merumuskan tujuan-tujuan khusus yang ingin dicapainya. Tujuan universal layanan konseling terkait dengan persoalan atau masalah yang dihadapi oleh konseli.

Logika
Logika konseling adalah acara berpikir lurus dan benar sesuai dengan aturan-aturan ilmiah. Berpikir kritis adalah sebuah proses penilain yang menggunakan logika untuk memisahkan kebenaran dari kepalsuan, masuk akal dari keyakinan yang tidak masuk akal. Jika kita ingin menilai dengan lebih baik berbagai klaim, gagasan dan argumen yang kita hadapi, kita memerlukan pemahaman logika dasar dan proses berpikir kritis yang lebih baik. Hal itu sangat penting untuk membuat keputusan yang baik dan membentuk keyakinan yang baik tentang dunia keseharian.

Ini tidak hanya berlaku untuk keyakinan kita sendiri, tapi juga untuk semua gagasan dan klaim yang sering kita hadapi. Terminologi “logika” digunakan cukup banyak, tapi tidak selalu dalam pengertian teknisnya. Logika inilah yang memungkinkan kita membedakan penalaran yang benar dari penalaran yang buruk. Logika itu penting karena membantu kita beralasan dengan benar tanpa penalaran yang benar, kita tidak memiliki sarana yang layak untuk mengetahui kebenaran atau sampai pada keyakinan yang baik..

Kemampuan kita untuk menggunakan penalaran jauh dari sempurna, tapi juga cara kita yang paling tepat dan sukses untuk mengembangkan penilaian yang baik tentang dunia di sekitar kita. Alat seperti kebiasaan, dorongan hati dan tradisi juga sering digunakan dan bahkan dengan beberapa keberhasilan, namun tidak tepat. Secara umum, kemampuan kita bergantung pada kemampuan kita untuk mengetahui apa yang benar, atau setidaknya apa yang lebih mungkin benar daripada tidak benar. Untuk itu, kita perlu menggunakan akal dalam menilai, mengkritisi, menganalisis masalah-masalah atau persoalan-persoalan yang dihadapi oleh konselor dan konseli.

Etika
Julianto Simanjuntak (2007: 389-399) Etika konseling merupakan suatu aturan yang harus dilakukan seorang konselor dan hak-hak klien yang harus dilindungi oleh seorang konselor. Selama proses konseling berlangsung, seorang konselor harus bertanggung jawab terhadap kliennya dan dirinya sendiri. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu konselor harus bertanggung jawab untuk memberi perhatian penuh terhadap klien selama proses konseling. Konselor tidak boleh melakukan konseling ketika kondisi fisik dan psikisnya kurang baik dan memiliki masalah pribadi dengan klien.
Konseling adalah jenis pelayanan yang sangat menguras tenaga. Oleh karena itu, pelaksanaan pelayanan ini tidaklah mudah. Kita harus berkonsentrasi dari awal sampai akhir konseling. Pikiran kita menganalisis apa yang dikatakan oleh klien. Sebetulnya, apakah yang sedang dirasakan oleh klien? Apakah yang Ada dalam pikiran dan hati klien? Jika kita tidak “memperhatikan secara penuh”, konseling itu tidak akan berlangsung dan itu berarti kita tidak bertanggung jawab. Jika kita keliru dalam menghadapi seseorang, kita akan membuat dia menderita.

Konselor harus dapat mengenal kekuatannya supaya dapat melakukan konseling dengan baik. Kita tidak boleh terlalu memaksakan diri. Jika hari ini saya bisa melakukan konseling 5 orang, jangan dipaksakan untuk melakukan konseling 7 orang. Setiap konselor memunyai kekuatan yang berbeda. Semakin ahli seseorang, semakin mudah dia berkonsentrasi dalam konseling. Anda juga harus menyadari kompetensi Anda dan tidak melakukan konseling di luar kompetensi Anda meskipun ia sangat tertarik. Etika ini sangat penting. Misalnya, saya tidak akan mengonseling anak penyandang autisme karena itu bukanlah keahlian saya. Sangat tidak bertanggung jawab jika saya mengonseling anak tersebut. Jadi, kita harus melihat hingga sejauh mana keahlian kita.

Hubungan konselor dan klien adalah hubungan yang menyembuhkan. Sekalipun profesional, kita tidak boleh menghilangkan relasi personal, misalnya berelasi sebagai teman. Kita harus mengetahui batasnya. Jika relasi kita sebatas personal, kita hanya menjadi pendengar curahan hati. Relasi antara konselor dan klien tidak boleh terlalu personal yang menjadikan klien “over dependent”, atau terjadi relasi yang saling memanfaatkan. Jika demikian, mengingat konselor adalah penanggungjawabnya, ia harus menghentikan proses konseling itu.

Konselor sebaiknya berhati-hati juga ketika menyikapi hubungan pribadi dengan klien. Kedekatan yang berlebihan dengan klien sering menjadikan dia sangat bergantung kepada kita. Oleh karena itu, kita harus bisa menjaga jarak. Kita harus mengetahui tanda-tanda klien mulai bergantung kepada kita. Jika itu sudah terjadi, kita bisa tidak objektif lagi. Kita akan kesulitan dalam melihat masalah klien dan merefleksikan perasaannya ketika relasi tersebut sudah menjadi terlalu personal. Jadi, hubungan yang dibangun antara konselor dan konseli haruslah bersifat terapeutik saja.

Estetika
Estetika konseling adalah salah satu konsep  yang membahas seni mempedulikan konseli menyampaikan segala masalahnya bisa kita sebut juga dengan empati. Estetika konseling merupakan ilmu yang membahas bagaimana komunikasi bisa terbentuk, dan bagaimana supaya dapat merasakannya. Estetika adalah sebuah konsep yang mempelajari nilai-nilai sensoris yang kadang dianggap sebagai penilaian yang terkait rasa. Estetika merupakan cabang yang sangat dekat dengan filsafat seniKonseling adalah suatu interaksi antara dua orang individu antara konselor dan konseli, terjadi dalam situasi yang bersifat pribadi (profesional) diciptakan dan dibina sebagai suatu cara untuk memudahkan terjadi perubahan tingkah laku konseli yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi oleh konseli. Bersifat profesional berarti bahwa konseli mengemukakan masalah yang dihadapi dan konselor menciptakan suasana hubungan yang akrab dengan menerapkan prinsip-prinsip dan teknik-teknik konseling sedemikian rupa, sehingga masalah konseli tersingkap dari segenap seginya dan pribadi konseli terangsang untuk mengatasi masalah yang dihadapi dengan menggunakan kekuatannya sendiri
Sikap empatik, menghormati keragaman, serta mengutamakan kepentingan konseli, dengan selalu mencermati dampak jangka panjang dari pelayanan yang diberikan. Sosok utuh kompetensi konselor mencakup kompetensi akademik dan profesional sebagai satu keutuhan. Kompetensi akademik merupakan landasan ilmiah dari pelaksanaan pelayanan profesional bimbingan dan konseling. Kompetensi akademik merupakan dasar bagi pengembangan kompetensi profesional, yang meliputi: (1) memahami secara mendalam konseli yang dilayani, (2) menguasai landasan dan kerangka teoretik bimbingan dan konseling, (3) menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling yang memandirikan, dan (4) mengembangkan pribadi dan profesionalitas konselor secara berkelanjutan. Untuk kerja konselor sangat dipengaruhi oleh kualitas penguasaan ke-empat kompetensi tersebut yang dilandasi oleh sikap, nilai, dan kecenderungan pribadi yang mendukung. Kompetensi akademik dan profesional konselor secara terintegrasi membangun keutuhan kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional. Motif altruistik dalam pelayanan bimbingan dan konseling yang memandirikan ditunjukkan dengan salah satu sikap yaitu sikap empati.

Empati menjadi hal yang sangat penting untuk awal mula membentuk komunikasi saat proses konseling dilakukan. Konselor dengan sikap empati akan menciptakan suasana yang nyaman, terpercaya dan penuh kejujuran dalam proses konseling untuk konseli. Sikap empati konselor yang tinggi inilah yang nantinya akan mempengaruhi proses pelayanan yang diberikan. Substansi dari keterampilan empati yaitu bahwa dengan adanya sikap ini, konseli akan secara terbuka menceritakan permasalahan yang dihadapi kepada konselor. Namun, empati menjadi hal yang sering diabaikan dalam proses konseling
Konselor menganggap bahwa dengan mendengarkan dengan seksama kemudian memberikan sebuah tanggapan sudah sangat cukup mewakili untuk proses konseling tanpa mencoba untuk menempatkan dirinya lebih dalam pada posisi yang dihadapi oleh konseli. Mendengarkan dengan seksama berbeda dengan proses empati, walaupun awal mula terbentuknya sikap empati dari mendengarkan dengan seksama. Menampilkan sikap empati pada proses konseling akan membuat pada satu kondisi yaitu bahwa konseli lebih didengar, dihargai dan merasakan bahwa ada orang lain yang mampu untuk merasakan apa yang dirasakan oleh dirinya pada saat itu. Sehingga, konselor dengan sikap empati merupakan konselor yang mampu menempatkan dirinya lebih dalam menuju posisi yang dihadapi oleh konseli.
Konselor secara utuh masuk dalam proses konseling, sehingga tidak hanya mengganggap dirinya sebagai seorang konselor namun mampu memposisikan dirinya sebagai konseli dan mencoba untuk memberikan pemahaman lebih kepada konseli melalui berbagai macam intervensi yang dilakukan. Berdasarkan hal tersebut, empati menjadi penting untuk dikembangkan oleh konselor yang akan membantu memfasilitasi konseli dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapi dan diperlukan latihan untuk menampilkan sikap empati sehingga layanan konseling yang dilakukan menjadi lebih efektif. Empati secara akurat akan membantu konselor untuk mampu secara utuh menempatkan dirinya dalam proses konseling
Konsep empati merupakan istilah umum yang dapat digunakan untuk pertemuan, pengaruh dan interaksi di antara-antara kepribadian. Empati merupakan arti dari kata “einfulung” yang digunakan oleh para psikolog Jerman. Secara harfiah berarti “merasakan ke dalam”. Empati berasal dari kata Yunani “Pathos”, yang berarti perasaan yang mendalam dan kuat yang mendekati penderitaan, dan kemuadian diberi awalan “in”. Kata ini mirip dengan kata “simpati”. Tetapi antara keduanya terdapat perbedaan. Jika simpati berarti “merasakan bersama” dan mengarah pada keadaan masalah kepribadian yang lebih mendalam pada seseorang, sedemikian sehingga seseorang yang berempati sesaat ketika kehilangan identitas dirinya. Proses empati yang mendalam dan bermakna inilah yang memunculkan proses pengertian, pengaruh dan bentuk hubungan antarpribadi.
Konsep empati tidak hanya mengulas suatu proses kunci menuju profesional konselor, tetapi juga termasuk pada pekerjaan guru, pemuka agama dan pekerjaan lain yang keseluruhan isi pekerjaan tersebut bergantung pada proses mempengaruhi orang lain. Empatik adalah keinginan untuk menolong, mengalami emosi yang serupa dengan emosi orang lain, mengetahui apa yang orang lain rasakan dan pikirkan. Empati (Clark, 2004; Rogers,1964).
Empati hadir saat konselor dapat merasakan perasaan dari konseli dan dapat mengkomunikasikan persepsi mereka, supaya konseli mengetahui bahwa orang lain telah memasuki dunia perasaan tanpa prasangka, proyeksi ataupun penilaian. Empati “untuk sementara bergerak dalam kehidupan orang lain, bergerak di dalamnya dengan hati-hati tanpa menghakimi”. Hal itu berarti dalam empati terjadi proses identifikasi yang berdampak pada pemahaman dan polapikir konseli.

Ilmu Pengetahuan Dan Persoalannya
Penalaran sebagai cara untuk memahami pengetahuan
Penalaran adalah salah satu kajian dalam filsafat ilmu konseling itu sendiri. Kemampuan kita dalam menalar memudahkan kita dalam mengembangkan berbagai jenis pengetahuan, baik secara rasional, empirik maupun intiusi. Dari yang pertama kali sampai ilmu yang kita dapatkan sekarang tidak jauh berbeda, karena ilmu itu hanya mengalami penambahan bukan mengalami perubahan yang berarti merubah bentuk dari karakteristik ilmu itu sendiri.

Ilmu yang baik adalah ilmu yang bisa membedakan bermanfaat bagi kehidupan manusia. Dia mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk, dia mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, dia mengetahui mana yang asli dan mana yang palsu, dia mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, dan dia juga mengetahui mana indah secara kasat mata dan dia juga mengetahui mana yang jelek walaupun itu kasat mata. Di sini yang dimaksudkan adalah manusia itu sendiri.

Manusia sangat memiliki peranan penting dalam menyelesaikan suatu masalahnya dengan berbagai cara dan dengan berbagai bantuan dari orang lain. Banyak juga manusia yang benar-benar pintar dalam artian memiliki pengetahuan yang lebih dari semuanya dan lebih cerdas dalam berbagai hal, namun hal ini tidak bisa menjamin kalau orang itu akan bahagia hidupnya. Meskipun manusia yang sangat sempurna ini bisa melakukan hal apapun yang dia mau, namun jika tidak merasakan kebahagiaan dalam hidupnya itu menjadi absurd (tanpa makna). Lebih baik menjadi manusia normal yang dikelilingi oleh manusia-manusia lain disekitarnya dan melakukan suatu hal dengan semuanya. (Jujun S. Suryasumantri, 2007: 38-40).

Manusia dituntut untuk mampu membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik. Orang bodoh sekalipun pasti akan bisa melakukan hal itu tanpa harus berfikir panjang. Maka jika manusia sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik, kenapa masih juga manusia yang berperilaku tidak baik. Misalnya sudah tahu kalau mencuri itu adalah hal yang sangat tidak baik, kenapa masih juga banyak orang yang mencuri. Jika ditanya mereka akan menjawab dengan berbagai alasan yang intinya hanya satu yaitu malas berusaha dan bekerja keras. Mereka lebih suka kalau mendapatkan sesuatu (uang/kebahagian) itu dengan cara yang instan, tanpa ada usahanya dan tanpa ada jerih payah untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Sama saja manusia ini seperti yang saya sebutkan di atas. Sudah di beri kesempurnaan berupa kesehatan, anggota tubuh yang lengkap, bisa berfikir layaknya manusia normal, dan yang terpenting mereka tahu kalau hal yang dilakukan itu salah, namun yang terjadi malah seperti itu.

Manusia memang makhluk paling sempurna di mata Tuhan, namun manusia itu sendiri yang merusak, ungkapan yang sangat unik itu berbanding lurus dengan hal-hal konyol yang telah di lakukannya terhadap sesama manusia bahkan dengan makhluk-makhluk lain mungkin juga akan seperti itu. Jika hal itu dinalar memang agak sulit di pahami, artinya merekalah yang lebih memilih mengambil resiko untuk berbuat kejahatan demi mendapatkan sesuatu dengan cara merugikan orang lain.

Namun tidak semua manusia seperti itu, itu hanyalah sebagian kecil dari manusia-manusia baik yang ada di muka bumi ini. Manusia yang baik pasti tahu mana yang benar dan mana yang tidak benar, mana yang pantas untuk dilakukan dan mana yang tidak pantas untuk dilakukan. Tentunya manusia yang baik jika sudah tahu mana yang tidak pantas untuk dilakukan maka dia tidak akan melakukannya, karena disinilah peran dari penalaran itu sendiri. (Jujun S. Suryasumantri, 2007: 42-45).

Logika adalah cara kritis dalam berpikir, memang sangat berbeda namun disini ada keterkaitan yang sangat erat hubungannya. Penalaran adalah proses dari berfikir manusia yang akan menghasilkan pengetahuan. Supaya pengetahuan yang dihasilkan disini bisa dinyatakan benar maka haruslah ada penarikan kesimpulan dari suatu pernyataan/asumsi.

Cara untuk bisa mendapatkan kesimpulan inilah yang disebut dengan logika, maka antara penalaran dengan logika itu memang sangat erat hubungannya dalam keseharian kita. Dalam penarikan kesimpulan ini ada banyak juga cara-cara untuk mendapatkan kesimpulan yang benar dan tepat dalam artian bisa di jadikan acuan untuk kedepannya. Dalam penarikan kesimpulan ini sendiri juga memiliki dua jenis, yaitu penarikan kesimpulan dengan cara logika induktif dan penarikan kesimpulan dengan cara logika deduktif.

Penarikan kesimpulan dengan cara logika induktif ini sangat erat hubungannya dengan penarikan kesimpulan dari berbagai kasus-kasus individual secara nyata dan dengan hasil akhir menjadi kesimpulan yang bersifat umum secara menyeluruh. Sedangkan penarikan kesimpulan dengan cara logika deduktif adalah kebalikan dari logika induktif, yaitu dengan menarik kesimpulan dari kesimpulan yang bersifat umum menjadi sebuah kasus yang bersifat khusus. atau individual.

Induksi adalah cara berfikir dimana adanya penarikan kesimpulan yang bersifat umum dari banyaknya kasus yang ada  dengan kasus itu bersifat individual atau khusus. Dengan logika ini penalaran yang digunakan juga berbeda, disini penalaran yang dimaksud adalah penalaran yang memiliki cakupan yang sangat terbatas dan khusus hanya terpusat pada hal itu saja dalam menyusun argumentasi yang di akhiri dengan pernyataan yang bersifat umum secara menyeluruh. Misalnya perumpamaan dari logika dengan cara ini adalah pohon pepaya membutuhkan air, pohon kanari membutuhkan air, bunga membutuhkan air, dapat di ambil kesimpulan dengan sifat umum dan secara menyeluruh bahwa semua tanaman membutuhkan air. (Jujun S. Suryasumantri, 2007: 46-49)
Dari penarikan kesimpulan tadi dapat diambil dua manfaat, manfaat yang pertama adalah kesimpulan tadi bersifat ekonomis dan memungkinkan untuk proses selanjutnya dengan cara induktif dan deduktif. Ekonomis disini memiliki arti bahwa pengetahuan itu tidak semuanya membutuhkan biaya yang mahal, misalnya saja seperti yang saya contohkan tadi tentang tanaman yang membutuhkan air. Kita tidak harus membayar untuh mendapatkan informasi itu, cukup dengan melihat saja maka kita sudah dapat menarik kesimpulan ini. Didukung dengan negara kita yang kaya akan berbagai budaya, flora dan fauna, beragam keunikan dari tiap tiap daerah yang berbeda antara satu dengan yang lain. Hal inilah yang mungkin tidak dimiliki negara asing.

Sebenarnya mereka sangat iri dengan kita, namum mereka pandai mengubah kata iri tersebut menjadi kata yang memiliki arti kebalikan. Contoh yang sangat simpel adalah negara kita sangat bergantung terhadap kemajuan teknologi dari negara lain. Kenapa kita tidak membuatnya sendiri, kita juga memiliki bahan dasar yang lengkap namun hanya kurang tenaga profesinal saja.

Tenaga disini bukan tidak mungkin kalau negeri kita bisa memilikinya, namun kurang minatnya rakyat Indonesia untuk memahami itulah yang menjadi kendala utama dalam hal ini. Memang tidak bisa di pungkiri kalau orang luar memiliki kemauan yang sangat keras untuk mempelajari suatu hal baru dan hal ini pasti ada manfaatnya untuk mereke di waktu yang akan datang.

Manfaat kedua yang bisa kita ambil dari sini adalah penalaran untuk selanjutnya bisa menggunakan metode yang lain, baik itu induktif maupun deduktif. Karena disini jika pernyataan itu bersifat induktif maka akan bisa lebih di induktifkan lagi, maksudnya adalah pernyataan secara umum akan bisa menjadi lebih umum lagi dan tentunya lebih tepat.penalaran deduktif adalah penalaran yang berlawanan dari penalaran induktif, yaitu penalaran yang secara umum menjadi secara khusus dan individu.

Deduksi adalah cara berfikir manusia seolah-olah manusia itu bisa mendapatkan kesimpulan yang pasti, berfikir dari manakah kesimpulan itu dan dari manakah hasil yang dicapai tersebut. Penarikan kesimpulan menggunakan cara ini biasanya menggunakan cara berfikir yang dinamakan silogisme. Silogisme adalah cara berfikir yang berasal dari dua buah pernyataan yang disusun secara bersamaan dan ada keterkaitan diantaranya.

Jika mencari kebenaran memang sulit untuk mendapatkannya, namun proses untuk mendapatkan kebenaran itulah yang sangat enak untuk dibahas. Sama halnya dengan filsafat yang terus mencari kebenaran suatu masalah dengan menggunakan berbagai cara agar kebenaran itu tidak hanya sekedar pernyataan saja, kebenaran yang dimaksudkan disini adalah kebenaran esensial yang di ambil dari berbagai sumber pengetahuan.
Pada sumber pengetahuan ini masih erat hubungannya dengan penalaran dan logika. Dadalam filsafat ilmu konseling semua hal itu memang ada hubungan dan keterkaitan antara satu dengan yang lainnya. Kita lihat saja suatu masalah yang muncul akan diselesaikan secara runtut melalui penalaran dan logika.

Batas-Batas Pengkajian Ilmu Pengetahuan
Apakah batasan yang merupakan ruang lingkup ilmu pengetahun? Dimanakah ilmu pengetahuan berhenti? Apakah yang menjadi karakter objek ontologis yang membedakan ilmu dan pengetahuan yang lain? Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu adalah sederhana: ilmu memulai penjelajahannya pada pengalaman manusia dan berhenti di batas pengalaman manusia. Ilmu tidak mempelajari ikhwal surga dan neraka. Sebab ikhwal surga dan neraka berada diluar jangkauan pengalaman manusia. Ilmu tidak mempelajari sebab musabab terciptanya manusia sebab kejadian itu terjadi diluar jangkauan pengalaman manusia. Baik hal-hal yang terjadi sebelum hidup kita, maupun hal-hal yang terjadi setelah kematian manusia, semua itu berada di luar penjelajahan ilmu.

Ilmu hanya membatasi daripada hal-hal yang berbeda dalam batas pengalaman kita karena fungsi ilmu sendiri dalam hidup manusia yaitu sebagai alat bantu manusia dalam menanggulangi masalah-masalah yang dihadapinya sehari-hari. Persoalan mengenai hari kemudian tidak akan kita tanyakan pada ilmu, melainkan kepada agama. Sebab agamalah pengetahuan yang mengkaji masalah-masalah seperti itu.

Ilmu membatasi batas penjelajahannya pada batas pengalaman manusia juga disebabkan pada metode yang dipergunakan dalam menyusun yang telah diuji kebenarannya secara empiris. Sekiranya ilmu memasukkan daerah di luar batas pengalaman empirisnya, maka pembuktian metodologis tidak dapat dilakukan.

Ruang penjelajahan keilmuan kita menjadi “ruang-ruang”  berbagai disiplin keilmuan. ruang ini makin lama semakin sempit sesuai dengn perkembangan kuantitatif disiplin keilmuan. Dahulu ilmu dibagi menjadi dua bagian yaitu; ilmu alam dan ilmu sosial.
Mengenai batas-batas ruang ini, disamping menunjukkan kematangan keilmuan dan profesional kita, juga dimaksudkan agar kita mengenal ilmu-ilmu yang berdekatan dengan bidang keilmuan kita. Dengan makin sempitnya  daerah penjelajahan suatu bidang keilmuan, maka sering sekali diperlukan “pandangan”  dari disiplin-disiplin yang lain. pendekatan multi disipliner, membutuhkan pengetahuan tentang ilmu-ilmu yang berdekatan. Artinya harus jelas bagi semua, dimana disiplin seseorang berhenti dan dimana disiplin orang lain mulai.
Ilmu Yang BerkembangS
Ilmu selalu dikembangkan dan tidak akan pernah punah selama masih ada yang riset. Pengembangan suatu ilmu pasti menggunakan metode, yang  dimaksudkan dengan metode yaitu metode ilmiah.  Metode ilmiah ialah cara untuk mendapatkan  atau menemukan pengetahuan yang benar dan bersifat ilmiah. Metode ilmiah mensyaratkan asas, pengembangan dan prosedur tertentu yang disebut  kegiatan ilmiah misalnya penalaran, studi kasus  dan penelitian. Metode  ilmiah dapat dengan penalaran dan pembuktian kebenaran ilmiah. Metode Ilmiah dengan penalaran dan kesimpulan atau pembuktian kebenaran. Penalaran merupakan suatu proses penemuan kebenaran di mana tiap-tiap jenis penalaran mempunyai kriteria kebenarannya masing-masing. Penalaran adalah suatu proses berpikir dalam menarik suatu kesimpulan yang benar dan  bukan hasil perasaan.

Penalaran  merupakan kegiatan yang mempunyai ciri tertentu  dalam penemuan kebenaran. Dua  ciri penalaran :
Berpikir logis adalah kegiatan berpikir menurut pola, alur dan kerangka tertentu (frame of logic) yaitu, menurut logika: deduksi-induksi, rasionalism-empirism, abstrak-kongkrit.

Berpikir analitis adalah konsekuensi dari adanya suatu pola berpikir analisis-sintesis berdasarkan langkah-langkah tertentu (metode ilmiah/ penelitian).

Menurut Archie J. Bahm, metode pengembangan ilmu ilmiah memiliki enam karakteristik utama, yaitu:
Rasa ingin tahu (curiosity)
Rasa ingin tahu ilmiah berupaya mempertanyakan bagaimana sesuatu itu eksis, apa hakekatnya, bagaimana sesuatu itu berfungsi, dan bagaimana hubungannya dengan hal-hal lain.
Spekulatif
Yang dimaksudkan dengan spekulatif oleh Bahms adalah keinginan untuk mencoba menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi. Dia harus membuat beberapa upaya. Ketika solusi terhadap suatu masalah ilmiah tidak muncul dengan segera, upaya harus dilakukan untuk menemukan solusi.
Kesediaan untuk menjadi objektif
Objektifitas adalah salah satu hal dari sikap subjektifitas. Objek selalu merupakan objek dari subjek. Objektifitas bukan saja berhubungan erat dengan eksistensi subjek tetapi juga berhubungan dengan kesediaan subjek untuk memperoleh dan memegang suatu sikap objektif.
Kesediaan untuk mengikuti rasa ingin tahu ilmiah
kemana saja rasa itu membimbing. Kesediaan ini mengisyaratkan keingintahuan dan kepedulian tentang penyelidikan lebih lanjut yang dibutuhkan demi pengertian sampai tahap kebijaksanaan yang dimungkinkan.

Kesediaan untuk mau menerima,
yang dimaksud di sini adalah penerimaan terhadap data. Data adalah muncul dalam pengalaman ketika objek-objek diamati, diterima sebagai suatu masalah untuk dipecahkan. Sikap ilmiah termasuk kesediaan untuk menerima data sebagaimana adanya.
Kesediaan untuk bertahan.
Tidak ada aturan yang menyatakan berapa lama seorang ilmuan harus bertahan dalam pergulatan dengan masalah yang alot. Kesediaan untuk tetap objektif mensyaratkan kesediaan untuk terus melanjutkan dan bertahan selama mungkin dan mencoba mengerti objek atau masalah sampai pengertian diperoleh.

Pikiran yang terbuka
Sikap ilmiah mengisyaratkan kesediaan untuk berpikiran terbuka. Hal itu termasuk kesediaan untuk mempertimbangkan segala hal yang relevan seperti hipotesis, dan metodologi yang berhubungan dengan masalah. Hal itu termasuk kesediaan untuk menerima, bahkan mengundang ide-ide baru yang berbeda dengan kesimpulan-kesimpulan yang telah dibangun.
Kesediaan untuk menangguhkan keputusan
Ketika suatu masalah kelihatannya tidak terselesaikan atau terpecahkan dengan jawaban-jawaban penelitian yang dilakukan, maka kesediaan untuk menangguhkan keputusan adalah hal yang tepat sampai semua kebenaran yang diperlukan diperoleh atau tersedia.
Tentativitas
Sikap ilmiah membutuhkan kesediaan untuk tetap bersifat sementara dalam menerima seluruh kesimpulan-kesimpulan ilmiah yang dibangun. Walaupun suatu hasil dalam kajian ilmiah itu bersifat sementara, tetapi kesediaan untuk tetap mempertahankan kesimpulan yang telah diperoleh dan dibuat itu penting.

Pengetahuan
Secara etimologi pengetahuan berasal dari kata dalam bahasa Inggris yaitu knowledge. Dalam Encyclopedia of Philosophy dijelaskan bahwa difinisi pengetahuan adalah kepercayaan yang benar (knowledge is justified true belief). Sedangkan secara terminologi ada beberapa definisi pengetahuan. Pengetahuan adalah apa yang diketahui atau segala yang kita tahu.
Pengetahuan adalah proses kehidupan yang diketahui manusia secara   langsung dari kesadarannya sendiri.
Pengetahuan adalah segenap apa yang kita ketahui tentang suatu objek tertentu, termasuk didalamnya ilmu, seni dan agama.
Pada dasarnya pengetahuan merupakan hasil tahu manusia terhadap sesuatu, atau segala perbuatan manusia untuk memahami suatu objek tertentu.
Pengetahuan adalah keseluruhan pengetahuan yang belum tersusun, baik mengenai matafisik maupun fisik.
Logika didefinisikan sebagai pengkajian untuk berpikir secara sahih.
Sumber Pengetahuan, pada dasarnya terdapat berbagai macam cara kita mendapatkan pengetahuan yang benar yaitu mendasarkan diri pada rasio, empiris dan intuitif.

Kriteria Kebenaran
Adapun beberapa kriteria kebenaran dari beberapa tokoh yaitu:
Teori Koherensi 
yaitu suatu pernyataan dianggap benar bila pernyataan itu bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang dianggap benar. Misalnya bila kita menganggap bahwa, “semua manusia pasti akan mati” adalah suatu pernyataan benar maka pernyataan, “si pulan adalah seorang manusia dan si pulan pasti akan mati” adalah benar pula karena kedua pernyataan kedua adalah konsisten dengan pernyataan yang pertama.

Teori Korespondensi
Menurut Bertrand Russell (1872-1970). Suatu pernyataan adalah benar jika materi pengetahuan yang dikandung pernyataan itu berkorespondensi (berhubungan) dengan obyek yang dituju oleh pernyataan tersebut. Misalnya jika seseorang mengatakan bahwa ibukota republik Indonesia adalah Jakarta maka pernyataan tersebut adalah benar sebab pernyataan itu dengan obyek yang bersifat faktual yakni Jakarta yang memang menjadi ibukota republik Indonesia.

Teori Pragmatis 
Charles S. Pierce (1839-1914). Suatu pernyataan adalah benar jika pernyataan itu mempunyai kegunaan praktis dalam kehidupan manusia.

Perbedaan Ilmu Pengetahuan dengan Pengetahuan
Terdapat beberapa definisi ilmu pengetahuan, di antaranya adalah:
Ilmu pengetahuan adalah penguasaan lingkungan hidup manusia.

Ilmu pengetahuan adalah kajian tentang dunia faktual.
Ilmu pengetahuan adalah definisi eksperimental.  
Ilmu pengetahuan dapat sampai pada kebenaran melalui kesimpulan logis dari pengamatan empiris. 
Berdasarkan definisi ilmu pengetahuan tersebut di atas maka pemantapan dilakukan dengan penelitian-penelitian dan percobaan-percobaan. Perlu dipertanyakan pula bagaimana hubungan antara akal sehat yang menghasilkan perseptual dengan ilmu pengetahuan sebagai konseptual. Jawabannya adalah akal sehat yang menghasilkan pengetahuan merupakan premis bagi pengetahuan eksperimental. Ini berarti pengetahuan merupakan masukan bagi ilmu pengetahuan, masukan tersebut selanjutnya diterima sebagai masalah untuk diteliti lebih lanjut. Hasil penelitian dapat berbentuk teori baru. Sedangkan Ernest Nagel secara rinci membedakan pengetahuan (common sense) dengan ilmu pengetahuan (science). Perbedaan tersebut sebagai berikut:
Dalam common sense informasi tentang suatu fakta jarang disertai penjelasan tentang mengapa dan bagaimana.
Ilmu pengetahuan menekankan ciri sistematik. 
Dalam menghadapi konflik kehidupan, ilmu pengetahuan menjadikan konflik sebagai pendorong untuk kemajuan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan berusaha untuk mencari, dan mengintroduksi pola-pola eksplanasi sistematik sejumlah fakta untuk mempertegas aturan-aturan. 
Kebenaran yang diakui oleh common sense bersifat tetap, sedang kebenaran dalam ilmu pengetahuan selalu diuji oleh penelitian kritis.

Perbedaan selanjutnya terletak pada segi bahasa yang digunakan untuk memberikan penjelasan pengungkapan fakta.
Perbedaan yang mendasar terletak pada prosedur. 
Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa ilmu pengetahuan merupakan pedang bermata dua, selain menghasilkan kemajuan peradaban yang demikian pesat, ilmu pengetahuan memunculkan banyak persoalan etis. Pencemaran lingkunngan, stress, depresi, konplik, empati dan kloning adalah anak kandung yang dilahirkan teknologi lepas dari persoalan etis. Hal ini di sebabkan sejak awal perkembangan ilmu pengetahuan sudah memproklamirkan dirinya bebas nilai, etikadiletakan dalam domain yang berbeda untuk mengurusi masalah yang berbeda. Ilmu pengetahuan mengurusi fakta-fakta sedang etika menggarap norma dan nilai.
Keringnya ilmu pengetahuan dari nilai-nilai moral mengundang kritikan dari berbagaimacam kalangan khususnya konselor. Mereka merasa perlu pertimbangan moral terhadap perkembangan ilmu pengetahuan yang seakan tanpa batas. Persoalanya, ilmu pengetahuan cenderung bergerak lebih cepat dari etika. Yang paling penting adalah pelajaran peradaban bahwa ilmu pengetahua tidak bisa melaju sendiri tanpa masukan etis. Kalau tidak ada koreksi atau masukan dari etika maka wajah ilmu pengetahuan akan makin murah. Kemuraman yang akan membawa manusia menuju puncak kehancurannya.
Ilmu sebagai Jembatan Untuk Membangun Pengetahuan
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1996), Ilmu diartikan sebagai pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu di bidang pengetahuan itu. Menurut J.S. Badudu (1996 : 528 ) Ilmu adalah: Pertama, diartikan sebagai pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara sistematis. Kedua, ilmu diartikan sebagai ‘kepandaian’ atau ‘kreatifan’. Sedangkan Maufur (2008:30), menjelaskan bahwa ilmu adalah sebagian dari pengetahuan yang memiliki dan memenuhi persyaratan tertentu, artinya ilmu merupakan pengetahuan sebaliknya pengetahuan belum tentu ilmu. Karena pengetahuan dapat dikategorikan sebagai ilmu jika memenuhi beberapa persyaratan yaitu sistematik, general, rasional, objektif, menggunakan metode tertentu dan dapat dipertanggungjawabkan.

Prinsip-Prinsip Pengembangan Ilmu
Pengertian Prinsip
Prinsip adalah suatu pandangan fundamental atau kebenaran umum maupun individual yang dijadikan oleh seseorang/kelompok sebagai pedoman untuk berpikir atau bertindak. Dalam kamus bahasa Indonesia prinsip memiliki arti asa (kebenaran yang menjadi dasar berpikir, bertindak); dasar deskripsi asas perbedaan dan dasar konvensi asas persesuaian. Mengenali prinsip-prinsip pengertian suatu ilmu yaitu mengetahui konsep dan esensi subjek ilmu serta konsep tiap-tiap subjek masalahnya, dan upaya ini lazimnya dilakukan dalam ilmu itu sendiri. Artinya, definisi subjek utama ilmu dijelaskan di bagian pendahuluan buku dan definisi subjek setiap masalah ilmu dijelaskan di pendahuluan setiap pembahasan masalah tersebut.

Sama halnya filsafat, subjek utama ilmu ini adalah realitas (objek sekaligus subjek), sebagai pengertian dan konsep, bersifat aksiomatis dan tidak membutuhkan definisi, maka ia tidak memerlukan prinsip-prinsip pengertian. Sedangkan definisi subjek setiap masalah filsafat diulas di pendahuluan pembahasan masalah, sebagaimana pola ini juga berlangsung dalam ilmu-ilmu lain.

Prinsip Penilaian
Adapun prinsip-prinsip penilaian ilmu dibagi menjadi dua macam: afirmasi atas keberadaan subjek utama ilmu, dan afirmasi atas prinsip-prinsip yang digunakan untuk meneliti dan memecahkan masalah-masalahnya. Namun, lagi-lagi, keberadaan subjek utama filsafat, yakni realitas, tidak lagi perlu dibuktikan, karena keberadaan realitas itu sendiri adalah aksiomatis dan tidak bisa diingkari oleh orang berakal mana pun. Paling tidak, setiap orang menyadari keberadaan dirinya sendiri sebagai sebuah realitas, dan kesadaran ekstensial, setstudi dan setelah itu baru dimulai penelitian atas ekstensi manusia. Hal inilah yang kemudian dipersoalkan dan dipertanyakan oleh para filsuf.

Adapun prinsip-prinsip penilaian, yakni prinsip-prinsip yang berfungsi sebagai dasar untuk memecahkan masalah-masalah ilmu, terbagi menjadi dua kelompok: pertama, prinsip-prinsip non-aksiomatis (teoretis) yang harus dibuktikan dalam ilmu lain. Prinsip-prinsip ini disebut juga dengan postulat (asumsi, pengandaiaan sementara). Dan, sebagaimana telah disebutkan, postulat yang paling umum pun dilaksanakan pembuktian dalam proto filosofia. Artinya, terdapat pesoalan atau masalah filsafat pertama yang berfungsi sebagai pembuktian atas postulat-postulat semua ilmu.

Namun, filsafat pertama sendiri, pada dasarnya, tidak memerlukan postulat-postulat dan prinsip-prinsip non-aksiomatis serupa, meskipun mungkin saja dalam ilmu-ilmu kefilsafatan lain seperti: teologi, psikologi filosofis, dan filsafat etika, diperlukan sejumlah postulat yang telah terbukti dalam filsafat pertama atau ilmu kefilsafatan lainnya atau bahkan dalam ilmu-ilmu empiris.

Sementara kelompok kedua adalah prinsip-prinsip berupa aksioma-aksioma dan tidak perlu pembuktian seperti: prinsip non-kontradiksi. Prinsip-prinsip semacam ini hanya dibutuhkan untuk menelaah masalah-masalah filsafat pertama, tetapi karena bersifat aksiomatis, mereka sama-sekali tidak perlu dibuktikan dalam filsafat pertama, apalagi dalam ilmu lain. Oleh sebab itu, dalam konteks ini, filsafat pertama tidak perlu apa pun dari ilmu yang lain, entah ilmu rasional atau empiris atau naratif atau intuitif. Dan inilah yang merupakan satu elemen dari identitas terpenting filsafat pertama.

Dalam hal ini, tentu saja logika diterapkan untuk memecahkan masalah-masalah filsafat pertama berpijak di atas kaidah-kaidah logika. Di samping itu, pembuktian tersebut juga dilakukan atas dasar keyakinan bahwa kebenaran filosofis bisa diketahui secara rasional. Maka, sesuai dasar ini, keberadaan akal dan kemampuannya dalam memecahkan masalah-masalah filosofis.

Meski demikian, pada hakikatnya, apa yang dibutuhkan filsafat pertama secara fundamental dari logika dan epistemologi tidak lebih dari prinsip-prinsip aksiomatis dua ilmu ini. Dan prinsip-prinsip aksiomatis ini sesungguhnya tidak bisa ditempatkan sebagai masalah-masalah yang perlu dipecahkan dan dibuktikan. Adapun berbagai uraian dan penjelasan mengenai prinsip-prinsip itu dalam logika dan epistemologi lebih tepat disebut sebagai cara mengingatkan dan membangkitkan kesadaran yang sebelumnya sudah diketahui.

Teori Perkembangan Ilmu
Teori adalah keyakinan umum yang membantu kita menjelaskan apa yang kita amati dan membuat prediksi. Teori yang baik memiliki hipotesis, yang merupakan asumsi yang harus diuji. Baik mari kita lihat berbagai macam teori perkembangan :
Teori-teori Psikoanalitis
Freud mengatakan kepribadian terdiri dari tiga struktur – id, ego dan superego – dan bahwa kebanyakan pemikiran anak-anak bersifat tidak disadari. Tuntutan struktur kepribadian yang saling bertentangan menyebabkan kecemasan. Mekanisme pertahanan, khususnya represi, melindungi ego dan mengurangi kecemasan. Freud yakin bahwa masalah berkembang karena pengalaman masa anak-anak sebelumnya. Ia mengatakan bahwa individu melampaui lima tahap psikoseksual-oral, anal, phallic, laten dan genital. Selama tahap phallic, Oedipus Complex merupakan sumber utama konflik. 
Teori Psikososial
Erikson mengembangkan suatu teori yang menekankan delapan tahap perkembangan psikososial : kepercayaan versus ketidakpercayaan; otonomi versus rasa malu dan ragu-ragu; prakarsa versus rasa bersalah; tekun versus rasa rendah diri; identitas versus kebingungan identitas; keintiman versus keterkucilan; bangkit versus mandeg; kepuasaan versus kekecewaan (keputusasaan).

c. Teori-teori Kognitif
Piaget mengatakan bahwa anak-anak melampaui empat tahap perkembangan kognitif, yaitu : sensorimotor, praoperasional, operasional konkrit, dan operasonal formal. Teori pemrosesan informasi mengenai bagaimana individu memproses informasi tentang dunianya, yang meliputi : bagaimana informasi masuk ke dalam pikiran, bagaimana informasi disimpan dan disebarkan, dan bagaimana informasi diambil kembali untuk memungkinkan kita berpikir dan memecahkan masalah.

Teori-teori Perilaku dan Belajar Sosial
Behaviorisme menekankan bahwa kognisi tidak penting dalam memahami perilaku. Menurut B.F. Skinner, seorang pakar behavioris terkenal, perkembangan adalah perilaku yang diamati, yang ditentukan oleh hadiah dan hukuman di dalam lingkungan. Teori belajar sosial yang dikembangkan oleh Albert Bandura dan kawan-kawan, menyatakan bahwa lingkungan adalah faktor penting yang mempengaruhi perilaku, tetapi proses-proses kognitif tidak kalah pentingnya. Menurut pandangan belajar sosial, manusia memiliki kemampuan untuk mengendalikan perilakunya sendiri.

Teori Etologis
Konrad Lorenz adalah salah seorang pengembang penting teori etologi. Etologi menekankan landasan biologis dan evolusioner perkembangan. Penanaman (imprinting) dan periode penting (critical periods) merupakan konsep kunci. Garis besar teori ini mengatakan pada dasarnya sumber dari semua perilaku social ada dalam gen. ada instink dalam makhluk untuk mengembangkan perilakunya. Analogi yang dikemukakan adalah “genes setting the stage, and society writing the play”. Teori ini memberikan dasar bagi pemahaman periode kritis perkembangan dan perilaku melekat pada anak segera setelah dilahirkan.

Teori-teori Ekologi
Teori etologis menempatkan tekanan yang kuat pada landasan perkembangan biologis. Berbeda dengan teori etologi, Urie Bronfenbrenner (1917) mengajukan suatu pandangan lingkungan yang kuat tentang perkembangan yang sedang menerima perhatian yang meningkat. Teori ekologi adalah pandangan sosiokultular Bronfenbrenner tentang perkembangan, yang terdiri dari 5 sistem lingkungan mulai dari masukan interaksi langsung dengan gen-gen social (social agent) yang berkembang baik hingga masukan kebudayaan yang berbasis luas. Ke 5 sistem dalam teori ekologis Bronfenbrenner ialah mikrosystem, mesosyem, ekosistem, makrosistem dan kronosistem.

Orientasi Teoritis Eklektis
Tidak satupun toeri dapat menjelaskan kompleksitas perkembangan masa hidup yang kaya dan mengagumkan. Masing-masing teori memberikan sumbangan yang berbeda, dan barangkali strategi yang paling bijaksana adalah mengadopsi perspektif teoritis eklektis jika kita ingin memahami perkembangan masa hidup secara lengkap. Sebagai suatu perspektif, pandangan masa hidup mengkoordinasikan sejumlah prinsip teoritis tentang hakekat perkembangan. Dengan mempertimbangkan gagasan-gagasan tentang perspektif masa hidup bersama dengan teori-teori perkembangan yang ada, maka dapat diperoleh suatu rasa konsep teoritis yang penting dalam memahami perkembangan masa hidup.

Menyoal Prinsip Pengembangan Ilmu dan Manfaatnya
Orang beranggapan bahwa ilmu sebagai satu kesatuan di luar dan di atas waktu yang terdiri atas himpunan-himpunan, petunnjuk-petunjuk dan pernyataan-pernyataan. Ketika persepsi mengenai “filsafat abadi” disisihkan oleh pendekatan historis, maka ilmu mulai mengambil peranan. persepsi tersebut salah, karena justru selama dasawarsa terakhir ini makin terlihat bahwa ilmu tidaklah abadi melaikan mengalami berubah. Para ilmuan selalu dapat mengembangkan ilmunya lebih lanjut. Ilmu bukan ibarat sebuah rumah dengan dasar abadi yang sepanjang sejarah hanya dilengkapi dengan hirarki baru. Struktur ilmu, bahkan apa yang disebut subtasi ilmu mengalami perubahan. Pendapat ini berdasarkan pada dua segi penelitian.

Pertama penelitian tentang sejarah ilmu membawa kita kepada pengertian bahwa bagi ilmu yang sama, arti istilah yang dipergunakan berbeda-beda pada waktu yang berlainan, misalnya arti istilah garis lurus untuk geometri euklidis dan geometri nireuklidis (noneuklidis), masa (mekanika Newton dan mekanika modern), perilaku (psikologi klesik behavioristis dan psikologi masa kini), nilai (ekonomi klasi dan ekonomi modern), gramatika (ilmu bahasa ada yang lalu dan ilmu bahasa abad ini). Diskusi mengenai masalah ini masih berlangsung terus, lebih-lebih mengenai pertanyaan apakah “arti” yang lain yang disebut di atas menunjukan perubahan dengan mempertahan kesinambunagan, ataukah suatu putusan, suatu revolusi yang mengakibatkan bahwa istilah yang sama memperoleh arti yang sama sekali lain. Bagaimanapun jelas bahwa ini tidak hanya menyangkut perubahan beberapa istilah tapi juga perubahan struktur suatu ilmu. Apakah itu menurut hokum dan bukti? kadua, karena pengaruh antropologi budaya, sejarah kebudayaan, dan sejarah ide-ide, munculnya apa yang di dapat disebut sebagai suatu ilmu baru yang dinamai “kulturologi”. Mungkin ilmu ini baru merupakan titik pertemuan anatara beberapa ilmu baru, akan tetapi ilmu ini berusaha menyelidiki hubungan antara beberapa pola kebudayaan dari satu pihak dengan cara-cara perilaku harian yaitu mengamati dan membahasnya dari lain pihak. Kalau ini benar maka semua ilmu harus memiliki paradigma baru.

Pada titik inilah muncul banyak persoalan. Memang dapat kita teliti bagaimana pengamatan ilmu modern mengamati kegiatan sehari-hari dan mengamati mengenai benda-benda langit, melihat objek yang lain sama sekali daripada waktu Kepler atau T. Brahe mengadakan pengamatan. Dapat juga diselidiki bagaimana pengamatan dan pemerian gerak bandul waktu Galilei akan memberikan hasil yang lain dari zaman purba atau zaman abad pertengahan. Bisa diselidiki juga bagaimana seorang biolog modern tidak hanya menerangkan, tapi juga melihat secara seksama tentang “keterarahan” (finalitas) daripada seorang penyelidik abad 18. Bahkan labih lanjut dapat dicoba menerangkan perubahan-perubahan itu karena dalam hubungan kerja atau dalam kerangka pemikiran metafisika, tetapi tetap terdapat pertanyaan apakah lewat kulturologi, kritik idiologi, dan sosiologi pengetahuan, struktur khusus suatu ilmu akan dapat dianalisis secara tuntas. Ilmu adalah suatu sistem yang berkaitan tentang pernyataan-pernyataan yang tetap sahih lepas dari memkanisme nyata yang memungkinkan upaya berpikir para ilmuwan. Dengan kata lain, ilmu harus dinilai berdasarkan tuntutannya akan kesahihan dan tidak berdasarkan keadaan nyata yang bersifat psikologis atau sosiologis yang pada suatu waktu tertentu di dalam perkembangan sejarah merupakan kesempatan bagi tumbuhnya ilmu tertentu. Suatu telaah lengkap mengenai keadaan psikologis dan sosial maupun tentang pendapat-pendapat pribadi I. Newton, sangat tidak memberikan keterangan mengenai hukum gravitasi. Oleh karena itu pendiri-pendiri psikologi dan sosiologi harus ditolak.
Hal inipun menjadi persoalan para peneliti, Apakah pertentangan antara tuntutan kesohihan salah satu sistem ilmiah dan keadaan nyata historis dan kebudayaan memang suatu pertentangan yang benar? Apakah usaha menemukan proses terjadinya dalam arus sejarah, yang sekarang masih berlangsung, berarti bahwa kesahihan disangkal? Ataukah penelaahan logis atau metodologis untuk menemukan kesahihan dapat dipandang lepas dari jalinan dengan struktur-struktur sosial atau religi atau kultural yang merupakan latar belakang bagi suatu sistem ilmiah tertentu bidang masalah keempat ini sangat erat kaitannya dengan yang pertama (ilmu dan ideologi), dengan yang kedua (ilmu dan etika), dan ketiga (ada tidaknya kemajemukan metode).
Bidang masalah yang keempat itu masih meliputi pertanyaan lain yang sejajar dengan yang disebut di atas. Peranan apakah yang dipegang oleh kreativitas dan inventivitas dalam membentuk ilmu? Bukan maksudnya terjadi suatu ilmu secara faktual dan historis karena sejarah ilmu semacam itu termasuk macam-macam yang ingin diketahui orang , tetapi tidak sampai pada hakikat ilmu. Bukan itu maksud pertanyaannya. Pertanyaan sebenarnya ialah: bagaimana kesahihan ilmu terwujudkan? Apakah kemajuan itu berarti belajar memperluas apa yang telah ada? Ataukah belajar menemukan apa yang belum ada? Pertanyaannya ialah bukan apakah cara berpikir seorang ilmuwan mengalami ilham-ilham dan cara berpikir baru yang mendadak, melaikan apakah perlusan dan perkembangan sebuah ilmu hanya terjadi lewat kesinambungan, yaitu dengan memperluas secara merata dalam struktur-struktur ilmu, ataukah diperlukan perubahan ala Copernicus. Kalau memang demikian, maka inventivikasi (penyusunan suatu yang baru yang tidak dapat dijabarkan dari apa yang mendahuluinya) bukan hanya ciri khas cara kerja subjek (ilmuwan), melaikan juga ciri khas dinamika objek (ilmu). Kalau demikian maka penemuan-penemuan penyelesaian (heuristik) tidak hanya bersifat psikologi tetapi juga mencakup aturan-aturan yang memungkinkan munculnya kesahihan struktur ilmiah. Heuristik dan pembenaran aturan-aturan bukan lagi dua bidang terpisah.
Mazhab dialektis dalam filsafat ilmu (G. Bachelard, F. Gonseth, P. Bernays) menyatakan dalam beberapa dasar warsa berselang bahwa perkembangan ilmu tidak pernah mengikuti garis lurus. Kemajuan ilmiah terdiri atas pembaruan kerangnka teori. Pembaruan ini mengandung baik unsur menyetujui maupun unsur menolak teori-teori dahulu (karena itu dipakai istilah dialektika). Dalam arti lebih logis ( yaitu dalam arti; penyangkalan, kontradiksi) istilah dialektika dipakai oleh pemikir-pemikir Neo-Marxistis antara lain Th. W. Adorno dan J. Habermas
Ilmu tidak berkembang secara berkesinambungan, dalam suatu ruang lingkup netral, melainkan dengan menemuan tersendat-sendat, terbina oleh motif-motif ideologis. Istilah di sini ditentang dengan keras karena istilah ini menyombonkan diri dengan mengemukakan kontradiksi-kontradiksi nyata maupun pernyataan-pernyataan, tidak hanya mengenai struktur ilmu tetapi juga tentang hakikat kenyataan. Lebih-lebih mengenai kenyataan sosial yang dipelajari oleh ilmu-ilmu sosial yang juga menyangkut ilmu pengetahuan alam dan teknik. Istilah dealektik mehilangkan pola perkembangan ilmiah yang lebih berkesinambungan seperti dikemukakan catatan-catatan filsafat ilmu masa kini yang lebih tradisional, tetapi juga secara ekstrim kalau tidak diterima bahwa tahap-tahap perkembangan selalu berkaita. Haluan ini tampil pada strukturalisme Prancis yang mewakili oleh M. Faucholt.
Kelompok pemikir lain tidak berbicara tentang perkembangan dialektika akan tetapi mengenai perkembangan revolusioner. Terkadang sifat revolusioner ini juga tidak dimunculkan, akan tetapi yang dimunculkan adalah pemikiran pokok bawa pembenaran yang oleh metode ilmu harus diberikan kepada hasil-hasilnya tidak sama untuk segala waktu, akan tetapi bergantung pada pola-pola “penemuan” dalam ruang lingkup sejarah kebudayaan. Kelompok ini, yang sebetulnya terdiri atas pemikir-pemikir yang amat berbeda haluannya, disebut juga “filsafat ilmu modern. Pemikir-pemikir kelompok ini antara lain: M. Polanyi, T. S. Kohn, P. K. Feyereband, S. Toulmin, dan A. Kaplan. Yang dekat mazhab ini disebut dengan ‘ilmu pengertian genetik” yang akhir-akhir ini dikembangkan oleh J. Piaget dan banyak rekan pada bidang psikologi, matematika, logika dan ilmu-ilmu sosial. Ilmu diarahkan oleh struktur-struktur yang juga bergerak dan berkembang. “logika” sebuah ilmu sebenarnya merupakan sebuah sistem keseimbangan yang lewat interaksi dengan lingkungan pada saat tertentu diacapai dan kelompok ketiga, yaitu mereka yang berkeinginan memandu hasil bermacam-macam aliran seperti filsafat analitik dan fenomenologi.

Perkembang-perkembangan pemikiran di atas memiliki arti bahwa pergolakan pemikiran sepanjang sejarah telah mengalami perubahan. Hal ini tidak dapat dibahas lebih lanjut karena memerlukan telaah historis yang lebih lanjut pula. Hanya sebagai ilustrasi; Rene Descartes menulis bahwa “kesenangan paling besar, saat saya mengadakan penyelidikan bukan mendengarkan alsan-alasan yang diberikan oleh orang lain, melaikan alasan tersebut oleh daya upaya saya sendiri”. Catatan tersebut memperlihatkan secara jelas bahwa ini bukan suatu pemberitahuan otobiografis saja. Bukti ilmu sebagai ilmu. John. Locke sewaktu menyakan bahwa “Asas-asas umum mengenai pengetahuan dan dalil-dalil umum termasuk bahasa dan urusan-urusan mazhab-mazhab dan akademi-akademi, cocok untuk bahasa buatan dan berguna untuk meyakinkan orang, tetapi tidak membawa orang kepada penemuan orang pada kebenaran atau membantu kemajuan pengetahuan”. Immanuel Kant dalam karya utamanya progemena: menyatakan bahwa “ide sebetulnya hanya pengertian heuristik, bukannya pengertian untuk membuktikan sesuatu: ide tidak memperlihatkan bagaimana hakikat benda, melaikan bagaimana kita menumbuhkan atau mengolah ide-ide semacam itu dalam mencari hakikat dan hubungan benda-benda pada umumnya. Hal ini memunculkan dugaan bahwa proses dinamis yang meliputi “penemuan” dan “pencarian” tidak dapat disisihkan untuk mencapai ilmu yang benar. Diantara ilmuwan yang muncul setelah priode itu yakni; C.S. Peirce, E. Husserl, yang kadang-kadang secara langsung mempengaruhi pemikiran-pemikiran modern.
Pembenaran dan prinsip-prinsip pengembangan ilmu praktis pertama-tama tertuju pada keperluan manusia untuk mempertahan hidupannya dan pada keinginan untuk meningkatkan kemungkinan-kemungkinan yang disajikan hidup ini. Ditinjau dari segi historis ada dua faktor yang sangat memperluas tujuan-tujuan “natural”ini. Faktor pertama adalah menambah kemungkinan-kemungkinan ini dengan cara tak terduga. Faktor lain adalah tradisi Yahudi-Kristiani yang minta perhatian untuk sesama yang menderita, untuk manusia yang tidak berdaya dan juga tidak berhak atas bantuan, karena tidak sangggup menyumbangkan sesuatu kepada masyarakat yang dapat menjadi dasar bagi haknya.
Untuk sekedar menjelsakan pentingnya ilmu untuk kehidupan kita. Baik mari kita lihat anggapan mediko–etis Hipokrates, prinsip ilmu kedokteran Yunani Kuno, dan membandingkannya dengan anggapan agama Kristen. Seperti diketahui, pandangan-pandangan Hiprakrates mempunyai mutu etis yang luhur dan sampai sekarang mempengaruhi pemikiran dan tindakan medis. Pengaruhnkrenya terutama karena ia mencari sebab hakikati bagi penyakit dan tidak lagi sebab-sebab adihakikati, seperti murka para dewa, dan juga karena dia menganggap sebagai kewajiban dokter mengemukakan kepentingan penderita atas segalanya. Maka hal itu menggabungkan pendekatan ilmiah dengan tanggung jawab etis dalm filsafat Yunani Kuno. Dengan demikian jelas bahwa begitu pentingnya peran ilmu dalam kehidupan kita. Ilmu mengarahkan kehidupan manusia menjadi lebih tepat guna untuk menjawab tantangan zama dan memberi solusi dalam setiap masalah yang dihadapi oleh kehidupan manusia.

Konseling dan kaitannya dengan filsafat
Layanan Konseling
Pelayanan Konseling merupakan kegiatan profesional yang memiliki dasar-dasar keilmuan, baik yang menyangkut teori-teorinya, pelaksanaan kegiatannya, maupun pengembangan-pengembangan pelayanan itu secara berkelanjutan. Ilmu, sering juga disebut “Ilmu pengetahuan”, merupakan sejumlah pengetahuan yang disusun secara logis dan sistematik. Pengetahuan ialah sesuatu yang diketahui melalui panca indera dan pengolahan daya pikir. Dengan demikian, layanan Konseling adalah berbagai pengetahuan tentang konseling yang tersusun secara logis dan sistematik. Sebagaimana layaknya ilmu-ilmu yang lain, layanan konseling tentunya mempunyai objek kajian tersendiri, metode penggalian pengetahuan yang menjadi ruang lingkupnya, dan sistematika pemaparannya.

Objek kajian konseling adalah upaya bantuan yang diberikan kepada individu yang mengacu pada keempat fungsi pelayanan, yaitu fungsi pemahaman, pencegahan, pengentasan, dan pemeliharaan/pengembangan. Segenap hal yang berkenaan dengan upaya bantuan itu (termasuk di dalamnya karakteristik individu yang meperoleh layanan, jenis-jenis layanan dan kegiatan dan kondisi pelayanan) diungkapkan, dipelajari seluk-beluk dan sangkut pautnya, ditelaah latar belakang dan kemungkinan masa depan, dan akhirnya disusun secara logis dan sistematis menjadi paparan ilmu.

Bagaimana cara mengungkapkan pengetahuan tentang konseling itu? untuk itu kita dapat menggunakan berbagai cara atau metode,  seperti pengamatan, wawancara, analisis dokumen (riwayat hidup, laporan perkembangan, himpunan data, dan lain-lain), prosedur tes dan inventori, analisis laboratoris. Melalui metode-metode itu akan diperoleh sejumlah besar pengetahuan tentang objek kajian konseling.

Namun demikian, pengetahuan yang banyak itu belum memiliki makna yang lebih luas dan belum dapat dimanfaatkan, serta belum menjadi bagian dari layanan konseling, apabila ditafsirkan dan diberiarti baik secara spesifik maupun luas dalam kaitannya dengan wilayah kajian konseling. Pemberian makna dan arti itu harus dilakuakan secara logis sistematik, bedasarkan penalaran dan kaidah-kaidah keilmuan. Paparan disampaikan dengan laporan hasil penelitian, buku teks, dan tulisan-tulisan ilmiah lainnya mengenai objek kajian konseling.

Peranan Ilmu Lain dan Teknologi Konseling.

Sebagaiman ilmu-ilmu yang lain, konseling juga merupakan ilmu yang bersifat multi dimensional, artinya ilmu dengan rujukan ilmu yang lain. Ilmu psikologi, ilmu pendidikan, dan ilmu filsafat telah memberikan sumbangan yang besar terhadap layanan konseling. Demikian juga dengan ilmu sosiologi dan antorpologi telah memberikan pemahaman tentang peranan individu dalam berfungsinya dalam masyarakat, keluarga, interaksi individu dalam kelompok; gabungan antara ilmu sosiologi dan ilmu ekonomi telah memberikan pemahaman tentang kondisi status sosial-ekonomi individu; gabungan antara ilmu sosiologi, ilmu antropologi dan ilmu kebudayaan telah memberikan pemahaman tentang latar belakang antropologi sosial-budaya klien; ilmu-ilmu kemasyarakatan dan lingkungan telah memberikan pemahaman interaksi timbal balik antara individu dan lingkungan; ilmu hukum, agama dan adat istiadat telah memberikan pemahaman tentang nilai dan norma yang harus diikuti oleh individu dalam menjalani kehidupan dimasyarakat; ilmu statistik dan evaluasi telah memberikan pemahaman tentang kehidupan teknik-teknik pengukuran dan evaluasi karakteristik individu; ilmu biologi telah memberikan pemahaman tentang kehidupan jasmani manusia. Adanya sumbangan dari berbagai ilmu tersebut sangat penting bagi pembentukan dan pengembangan teori-teori serta praktek pelayanan konseling.

Disamping itu, ada perangkat teknologi yang berkembang cepat dewasa ini, yaitu computer, yang secara langsung dapat dimanfaatkan dalam pelayanan konseling. Sejak tahun 1980-an peranan computer telah banyak dikembangkan. Bidang yang banyak memanfaatkan jasa komputer ialah bimbingan karir dan bimbingan/ konselor pendidikan (Gaushel, 1984). Selain keuntungan aspek-aspek teknis yang dapat dipetik dari penggunaan komputer itu, menurut Gaushel ialah meningkatnya motivasi klien untuk mengikuti layanan/kegiatan konseling, serta keuntungan-keuntungan lainnya dalam kegiatan testing dan administrasi pelayanan konseling secara menyeluruh.

Pengembangan Konseling melalui Penelitian
Konseling, baik teori maupun praktik pelayanannya besifat dinamis dan berkembang, seiring dengan ilmu-ilmu yang memberikan sumbangan dan seiring pula dengan perkembangan budaya manusia pendukung pelayanan konseling boleh jadi dapat dikembangkan dibelakang meja, melalui proses pemikiran dan perenungan, namun pengembangan yang lebih lengkap dan teruji di dalam praktek, ialah apabila pemikiran dan perenungan itu memperhatikan pula hasil-hasil penelitian di lapangan. Pengembangan praktek pelayanan konseling tidak boleh tidak harus melalui penelitian, bahkan kalau dapat penelitian yang bersifat eksperimen. Dengan deimikian, melalui penelitian suatu teori dan praktek konseling menemukan pembuktian tentang ketepatan.

Penelitian adalah jiwa dari perkembangan ilmu dan teknologi. Apabila pelayanan konseling diinginkan untuk berkembang dan maju, maka penelitian dan aspek yang diteliti harus terus menerus dilakukan. Tanpa penelitian, perkembangan pelayanan konseling akan mandul dan steril. 
Konsep Dasar Filsafat ilmu konseling
Filsafat ilmu konseling pada hakekatnya merupakan dasar pijakan dan kacamata bagi konselor dalam melaksanakan dan mengembangkan layanan konseling. Filsafat sebagai landasan konseling bermakna bahwa filsafat menyediakan dasar pijakan bagi konseling untuk berdiri dan bertindak. Filsafat berusaha membimbing, mengarahkan, menyingkap, memaknai semua praktek konseling karena praktek konseling yang tidak memiliki landasan filosofis akan mengalami kekosongan makna.

Walaupun demikian membahas landasan filosofis merupakan hal yang sangat sukar. Selain karena diperlukan usaha yang berkaitan dengan pemikiran-pemikiran kritis dan mendasar, juga dikarenakan banyaknya aliran, faham dan konsep filsafat yang ada. Salah satu dari berbagai masalah filsafat yang harus dihadapi konselor adalah bagaimana konselor menggunakan landasan filosofis sehubungan dengan perannya sebagai orang yang membantu konseli dalam menentukan pilihan dan membuat keputusan. Pengkajian landasan-landasan filsafat konseling ini difokuskan kepada pembahasan mengenai; makna, fungsi dan prinsip filsafat Konseling, eksistensi manusia, tujuan, tugas manusia dan Implikasinya terhadap Pelaksanaan Konseling.

Dengan Landasan filosofis yang baik, konseli akan dibawa dari manusia yang apa adanya menjadi manusia yang Apa seharusnya, yang ideal menurut kaidah kebenaran, hakikat Sifat manusia, dan akhirnya menjadi pribadi yang mandiri dan berkembang secara optimal.  Filsafat ilmu konseling “Landasan” di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia  diartikan sebagai esensi, dasar, atau tumpuan. Adapun istilah landasan sebagai dasar dikenal juga fondasi. Mengacu kepada pengertian tersebut, kita dapat memahami bahwa landasan adalah suatu dasar pijakan dari sesuatu hal.

Loren Bagus (1996: 242) Filsafat berasal dari bahasa Yunani yang terdiri atas suku kata philein/philos yang artinya cinta dan sophos/Sophia yang artinya kebijaksanaan, hikmah, ilmu, kebenaran, jadi filsafat berarti kecintaan terhadap kebijaksanaan Secara maknawi filsafat dimaknai sebagai suatu pengetahuan yang mencoba untuk memahami hakikat segala sesuatu untuk mencapai kebenaran atau kebijaksanaan.

Dalam arti lain filsafat sebagai suatu “usaha manusia untuk memperoleh pandangan atau konsepsi tentang segala yang ada hadir dalam dunia dan apa makna hidup manusia di dunia ini”. Artinya landasan filsafat konseling adalah asumsi filosofis yang dijadikan titik tolak dalam rangka studi dan praktek konseling, asumsi tersebut adalah jawaban yang terkait dengan pertanyaan tentang apakah makna hidup itu? Dari mana asal manusia dan ke mana perginya?, apa hakiat manusia itu?.

Fungsi Filsafat ilmu konseling
Setiap manusia harus mengambil keputusan atau tindakan, keputusan yang diambil adalah keputusan diri sendiri dengan berfilsafat dapat mengurangi salah faham dan konflik untuk menghadapi banyak kesimpangsiuran dan dunia yang selalu berubah.
Dengan berfilsafat seseorang akan memperoleh wawasan atau cakrawala pemikiran yang luas sehingga dapat mengambil keputusan yang tepat. Keputusan tersebut mempunyai konsekuensi tertentu yang harus dihadapi secara penuh tanggung jawab. Oleh karena itu, keputusan yang diambil akan terhindar dari kemungkinan konflik dengan pihak lain, bahkan sebaliknya dapat mendatangkan kenyamanan atau kesejahteraan hidup bersama, walaupun berada dalam iklim kehidupan yang serba kompleks.

Makna dan fungsi filsafat
Makna dan fungsi filsafat dalam kaitanya dengan layanan konseling mengemukakan pendapat Belkin (1975) yaitu bahwa, “Pelayanan konseling meliputi kegiatan atau tindakan yang semuanya diharapkan merupakan tidakan yang bijaksana. Untuk itu diperlukan pemikiran filsafat tentang berbagai hal yang terkait dalam pelayanan konseling. Pemikiran dan pemahaman filosofis menjadi alat yang bermanfaat bagi pelayanan konseling pada umumnya, dan bagi konselor pada khususnya, yaitu membantu konselor dalam memahami situasi konseling dalam mengambil keputusan yang tepat. Disamping itu pemikiran dan pemahaman filosofis juga memungkinkan konselor menjadikan hidupnya sendiri lebih baik, lebih kreatif, serta lebih efektif dalam penerapan upaya pemberian bantuannya.

Rangkuman
Filsafat ilmu merupakan pemikiran reflektif terhadap persoalan-persoalan yang menyangkut landasan ilmu maupun hubungan ilmu dengan segi kehidupan manusia. Landasan ilmu mencakup: konsep dasar, anggapan dasar, asas permulaan, struktur teoritis, dan kebenaran ilmiah. ada enam sumber pengetahun yang mendasari lahirnya pengetahuan secara sistematis:
Ontologi
Epistimelogi
Aksiologi
Logika
Etika
Estetika
Dari enam sumber tersebut melahirkan konsep dasar Filsafat ilmu konseling, filsafat ilmu konseling pada hakekatnya merupakan dasar pijakan dan kacamata bagi konselor dalam melaksanakan dan mengembangkan layanan konseling. Filsafat sebagai landasan konseling bermakna bahwa filsafat menyediakan dasar pijakan bagi konseling untuk berdiri. Filsafat berusaha membimbing, mengarahkan, menyingkap, memaknai semua praktek konseling karena praktek konseling yang tidak memiliki landasan filosofis akan mengalami kekosongan makna.

Landasan filosofis merupakan hal yang sangat sukar. Selain karena diperlukan usaha yang berkaitan dengan pemikiran-pemikiran kritis dan mendasar, juga dikarenakan banyaknya aliran, faham dan konsep filsafat yang ada. Salah satu dari berbagai masalah filsafat yang harus dihadapi konselor adalah bagaimana konselor menggunakan landasan filosofis sehubungan dengan perannya sebagai orang yang membantu konseli dalam menentukan pilihan dan membuat keputusan. Pengkajian landasan-landasan filosofis konseling ini difokuskan kepada pembahasan mengenai; makna, fungsi dan prinsip filosofis Konseling, eksistensi manusia, tujuan, tugas manusia dan Implikasinya terhadap Pelaksanaan Konseling.

Dengan mempunyai Landasan filosofis yang baik, konseli akan dibawa dari manusia yang apa adanya menjadi manusia yang Apa seharusnya, yang ideal menurut kaidah kebenaran, hakikat Sifat manusia, dan akhirnya menjadi pribadi yang mandiri dan berkembang secara optimal.  Filsafat ilmu konseling “Landasan” di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia  diartikan sebagai alas, dasar, atau tupuan. Adapun istilah landasan sebagai dasar dikenal pula sebagai fondasi. Mengacu kepada pengertian tersebut, kita dapat memahami bahwa landasan adalah suatu alas atau dasar pijakan dari sesuatu hal, suatu titik tumpu atau titik tolak dari sesuatu hal, atau suatu fondasi tempat berpijaknya sesuatu hal.

Konseling, baik teori maupun praktik pelayanannya besifat dinamis dan berkembang, seiring dengan ilmu-ilmu yang memberikan sumbangan dan seiring pula dengan perkembangan budaya manusia pendukung pelayanan konseling boleh jadi dapat dikembangkan dibelakang meja, melalui proses pemikiran dan perenungan, namun pengembangan yang lebih lengkap dan teruji di dalam praktek, ialah apabila pemikiran dan perenungan itu memperhatikan pula hasil-hasil penelitian di lapangan. Pengembangan praktek pelayanan konseling tidak boleh tidak harus melalui penelitian, bahkan kalau dapat penelitian yang bersifat eksperimen. Dengan deimikian, melalui penelitian suatu teori dan praktek konseling menemukan pembuktian tentang kebenaran.

Tugas
Dalam perkuliahan filsafat ilmu ini setiap mahasiswa wajib mengerjakan tugas individu dan kelompok. Tugas individu berupa pembuatan makalah yang berisikan materi filsafat ilmu yang dipilih mahaiswa, bisa berupa analisis film atau materi ajar;ontologi, epis temologi dan aksiologi. Seddang tugas kelompoknya adalah menyajikan artikel filsafat ilmu yang sesuai dengan materi pembelajaran.
Tes Formatif
Filsafat ilmu merupakan pemikiran reflektif terhadap persoalan-persoalan yang menyangkut landasan ilmu maupun hubungan ilmu dengan segi kehidupan manusia, landasan tersebut mencakup…

Rasionald. Konsep dasar
Empirise. Kritis
Analitis
Pandangan fundamental atau kebenaran umum maupun individual yang dijadikan oleh seseorang/kelompok sebagai pedoman untuk berpikir atau bertindak disebut juga dengan…

Asas d. Perspektif
Prinsip e. Korespondensi
Refleksi
Sumber pengetahun yang mendasari lahirnya pengetahuan secara sistematis adalah…

Metode d. Refleksi
Penelitian e. Eksplorasi
Epistemologi
Ilmu hanya membatasi daripada hal-hal yang berbeda dalam batas pengalaman kita karena fungsi ilmu sendiri dalam hidup manusia yaitu…

Sebagai alat bantu manusia dalam menanggulangi masalah-masalah yang dihadapinya sehari-hari
Sebagai alat bantu manusia untuk mencari kerja
Sebagai alat bantu manusia dlam melakukan kegiatan penelitian
Sebagai alat untuk memenuhi kebuthan hidup sehari-hari
Sebahgai alat untuk menaikan harga diri kita di tengan masyarakat
Cara berfikir dimana adanya penarikan kesimpulan yang bersifat umum dari banyaknya kasus yang ada  dengan kasus itu bersifat individual atau khusus yaitu…

Deduktifd. Kolaboratif
Induktif e. Sistematis
Sintesis
Jika seseorang mengatakan bahwa ibukota republik Indonesia adalah Jakarta maka pernyataan tersebut adalah benar sebab pernyataan itu dengan obyek yang bersifat faktual yakni Jakarta yang memang menjadi ibukota republik Indonesia, pernyataan tersebut termasuk dalam teori adalah…

Teori korespondensid. Teori filosofis
Teori koherensi e. Teori Holistik
Teori pragmatis
Ciri atau aspek khusus (bentuk) yang ditonjolkan untuk menyimak keutuhan sebuah kajian (esensi ilmu) disebut objek…

Material d. Filsafat
Formal e. Epistemologi
Kultural
Melihat manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan dan dibuat menurut mampu mentransendensikan dirinya kepada Tuhan. Penafsiran ini tidak melihat manusia dari segi keunikan pikiran atau hubungannya dengan alam. Hal tersebut termasuk kedalam model penafsiran…

Rasionalisd. Ilmiah
Kritis e. Empiris
Teologis
Cara untuk mendapatkan  atau menemukan pengetahuan yang benar dan bersifat ilmiah disebut…

Metode d. Rasional
Fonomenologi e. Empiris
Palsifikasi
Pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu di bidang pengetahuan, yaitu…

Ilmud. Wahyu
Pengetahuan e. Refleksi
Sains
Glosarium
Kritis11. Personal21. Aposteriori31. Karakteristik
Logis12. Terapeutik 22. Konkret 32. Spekulasi
Inovatif13. Konselor 23. Metode 33. Koherensi
Etis14. Konseli 24. Integrasi 34. Korespondensi
Estetis15. Empati 25. Formal 35. Pragmatis
Rasional 16. Espektasi 26. Material 36. Eksplanasi
Empiris 17. Eksistensi 27. Struktural 37. Subjektif
Refleksi 18. Alegori 28. Validitas 38. Objektif
Kompetensi19. Esensi 29. Interaksi 40. Kognitif
Relasi 20. Apriori 30. Absurd 41. Dialektika
Daftar Fustaka
Anton Bakker dan Drs. Achmad Charris Zubair, Metodologi Penelitian Filsafat, Penerbit Kanisius tahun 1990
Bagus, Loren., Kamus Filsafat, Jakarta: Gramedia 1996
Belkin, G.S. 1981. Practical Caounseling in The School. Lowa: WMC. Brown Company Publishers
Bertrand Russel, 2007, Sejarah Filsafat Barat dan Kaitannya dengan Kondisi Sosio-Politik dari Zaman Kuno hingga Sekarang terj. Sigit Jatmiko, dkk, Cetakan III, Pustaka Pelajar, : Yogyakarta
Carl Rogers,  Journal of, Humanistic Counseling, Education And Development Fall 2004 Volume 43.

Donny Gahral Adian, Menyoal Objektivisme Ilmu Pengetahuan: Dari David Hume sampai Thomas Kuhn, Penerbit. Teraju 2002 Jakarta
Hadi, P. Hadono. 1994. Epistemologi (Filsafat Pengetahuan). Yogyakarta: Kanisius
http/defaultride wordpress.com/2010/06/28/teori-teori-kebenaran-korespondensi-koherensi-pragmatik-struktural-paradigmatik dan-performatik

http://inggitkhrisna.blogspot.co.id/2017/01/landasan-dan-pendekatan-dalam-bimbingan.htmlhttps://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/03/14/fungsi-prinsip-dan-asas-bimbingan-dan-konseling/https://www.academia.edu/7116722/HAKEKAT_BIMBINGAN_konseling
Immanuel Kant. 1998. Critique Of Pure Reason, Trans Lat E D And E D Ited By Paul Guyer, University of Pennsylvata ALLENW. WOOD Yale University Cambridge Universitity Press.

J. Locke. 1960. An Essy Concerning Human Understanding. London
J. Suadarminta, Efistemologi Dasar : Pengantar Filsafat pengetahua. Penerbit Kanisius tahun 2002
Prayitno dan Erman Amti. 2004. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Rineka
Richard Nelson Jones, 2011, Teori dan Praktek Konseling dan Terapi, Pustaka Pelajar : Yogyakarta
Russel Bertrand, 2007, Sejarah Filsafat Barat dan Kaitannya dengan Kondisi Sosio-Politik dari Zaman Kuno hingga Sekarang terj. Sigit Jatmiko, dkk, Cetakan III, Pustaka Pelajar, : Yogyakarta
Shertzer, B. ; Stone, S.C. (1981). Fundamentals of guidance. 4ed. Boston: Houghton MifflinCompany.

Simanjuntak Julianto, Perlengkapan Seorang Konselor, Jakarta: layanan konseling keluarga 2007
Suriasumantri, Jujun S. 1960. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan Jakarta
The Liang Gie. Pengantar Filsafat Ilmu. Yogyakarta, 2010, Penerbitn. Liberty Yogyakarta
Wakuldin, Arah Pengembangan Sumberdaya Manusia Dalam Dimensi Pendidikan, Jurnal Edukasi 2014, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

Post Author: admin