Site Loader
Rock Street, San Francisco

Abstrak
Mikroskop merupakan salah satu instrument yang digunakan untuk melihat benda-benda renik atau mikroorganisme yang tidak bias dilihat secara kasat mata. Pengamatan mikroorganisme dapat diketahui dengan metode pewarnaan contohnya seperti pewarnaan gram dan pewarnaan endospore. Percobaan kali ini harus telah melalui proses aseptis untuk menghindari adanya kontaminasi mikroba yang dapat mengganggu pengamatan.
Kata kunci : Mikroskop, Metode Pewarnaan1. TINJAUAN PUSTAKA
Mikroskop adalah sebuah alat yang digunakan untuk melihat benda –benda yang ukurannya tidak bisa dilihat dengan kasat mata. Mikroskop berdasarkan jumlah lensanya dapat dibagi menjadi 2 yaitu mikroskop monokuler (1 lensa) dan mikroskop binokuler (2 lensa). Mikroskop yang menggunakan pencahayaan dengan elektron disebut dengan mikroskop elektron. Mikroskop elektron menghasilkan pembesaran yang lebih besar serta digunakan untuk melihat organisme-organisme yang sangat kecil seperti bakteri.

Pada umunya, sumber cahaya dari mikroskop berasal dari cahaya matahari atau lampu yang dipantulkan dengan suatu cermin, baik datar maupun cekung. Lensa objektif adalah lensa yang dekat dengan objek serta merupakan tempat pembentukan bayangan pertama. Sedangkan lensa okuler adalah lensa yang dekat dengan mata dan berada di ujung atas tabung mikroskop. Lensa okuler berfungsi untuk memperbesar bayangan dari lensa objektif dengan pembesaran antara 4-25 kali. (Wibisono, 2017)
Metode pewarnaan dibagi menjadi tiga jenis metode pewarnaan, yaitu pewarnaan sederhana, pewarnaan diferensial, dan pewarnaan khusus. Pewarnaan sederhana adalah metode pewarnaan menggunakan satu zat warna untuk mengetahui morfologi suatu mikroorganisme, biasanya menggunakan zat warna methylen blue. Pewarnaan diferensial dibagi menjadi dua, yaitu pewarnaan gram dan pewarnaan acid-fast stain. Terakhir, pewarnaan khusus untuk melihat bagian tertentu dari bagian mikroorganisme, seperti endospora, flagella, dan kapsula.
Pewarnaan spora atau endospora lebih sering menggunakan metode Schaeffer Fulton, pewarna yang digunakan yaitu hijau malasit dan safranin. Endospora merupakan bentuk inktif dari bakteri (domant) dan melindungi bakteri dari kondisi tidak menguntungkan. Spora hanya biasa diwarnai dengan pewarna khusus karena jika menggunakan pewarna biasa (seperti perwarnaan gram dan sederhana) tidak dapat menembus dinding spora. (Murwani, 2015)
Pewarnaan Gram adalah salah satu metode penentuan jenis bakteri yang paling umum digunakan. Pewarnaan Gram ditemukan oleh seorang bakteriologis asal Denmark yaitu Hans Christian Gram. Teknik ini dapat memisahkan jenis bakteri berdasarkan dinding selnya menjadi 2 macam yaitu Gram-positif dan Gram-negatif. Pewarnaan gram menggunakan senyawa kristal violet yang berwarna ungu. Pada bakteri Gram-positif memiliki dinding sel yang tebal sehingga mampu mempertahankan warna ungu. Sedangkan Gram-negatif adalah bakteri yang memiliki dinding sel yang tipis sehingga tidak dapat mempertahankan warna ungu dengan membentuk warna merah-merah muda. Walaupun pewarnaan Gram merupakan metode yang sangat baik, tidak semua bakteri bisa diklasifikasikan dengan cara ini. (Hiremath dan Bannigidad, 2011 No.3 Vol. 7 : 258)
4. HASIL PENGAMATAN
Berdasarkan Tabel 1., Dapat dilihat hasil pengamatan dari pengecatan kapang, yeast, dan bakteri. Mikroskop yang digunakan yaitu mikroskop binokuler dengan perbesaran 10 x 100. Kelompok A1 melakukan metode pewarnaan pada kapang, kultur yang digunakan yaitu Aspergillus sp, hasilnya Aspergillus sp berwarna hitam karena miselium Aspergillus sp berwarna hitam, berbentuk coccus dan memiliki spora, sporangium dan sporangiofor. Kemudian kelompok A2 melakukan metode pengecatan sederhana, menggunakan kultur Lactobacillus plantarum, hasil yang didapatkan Lactobacillus plantarum berwarna biru karena zat warna methylen blue melekat pada Lactobacillus plantarum dan berbentuk bacillus. Pada kelompok A3 melakukan metode pewarnaan Gram, menggunakan kultur Escherichia coli, hasilnya Escherichia coli berwarna merah karena merangkap zat warna safaranin dan berbentuk coccus. Lalu kelompok A4 melakukan metode pewarnaan Gram juga, tetapi menggunakan kultur Sthapylococcus aureus, didapatkan hasil berwarna ungu karena merangkap zat pewarna violet kristal dan berbentuk coccus. Kelompok A5 melakukan pewarnaan spora pada bakteri dengan menggunakan kultur Bacillus cereus, setelah diamati hasilnya spora bakteri Bacillus cereus berwarna hijau karena merangkap zat pewarna malachite green dan berbentuk bacillus. Terakhir, kelompok A6 melakukan pewarnaan spora pada yeast, menggunakan kultur Saccharomyces cereviceae, hasil penyamatannya spora Saccharomyces cereviceae berwarna ungu karena merangkap zat warna violet kristal dan berbentuk coccus.

5. PEMBAHASAN
Mikroskop merupakan salah satu alat bantu penglihatan yang sudah dikenal sejak lama. Mikroskop pada umunya digunakan untuk melihat benda-benda kecil seperti renik dan mikroorganisme. Mikroskop yang umum digunakan pada laboratorium adalah mikroskop cahaya yaitu mikroskop yang menggunakan sumber cahaya untuk membantu pengamatan objek. Biasanya menggunakan cahaya matahari atau cahaya lampu. Mikroskop sederhana pada umumnya memiliki pembesaran 200-300 kali. Mikroskop memiliki 2 macam lensa yaitu lensa objektif dan lensa okuler.

Lensa objektif adalah lensa yang dekat dengan objek atau benda yang diamati. Sedangkan lensa okuler adalah lensa yang dekat dengan mata pengamat. Baik lensa objektif maupun lensa okuler merupakan lensa cembung. Masing-masing lensa akan memberikan bayangan sementara yang bersifat semu, terbalik, dan diperbesar dari posisi bayangan semula. Dan bayangan akhir selanjutnya akan sama dengan bayangan sementaranya yaitu semu, terbalik, dan diperbesar. (Wibisono, 2017)
Dalam setiap percobaan terutama yang berhubungan langsung dengan organisme haruslah melalui suatu proses yang disebut proses aseptis. Proses aseptis adalah proses pembuatan produk steril tanpa sterilisasi akhir. Resiko kontaminasi dari proses aseptis lebih besar dari pada sterilisasi akhir, namun dapat mengurangi jumlah kontaminan yang ada. Proses aseptis dapat dilakukan dengan cara pemvakuman dengan vacuum cleaner, pengelapan permukaan dinding, meja, dan peralatan yang akan digunakan dengan saflon dan alkohol 70%. Proses aseptis biasa digunakan dalam praktikum mikrobiologi untuk menghilangkan kontaminan-kontaminan yang dapat mengganggu praktikum serta minimalisir terjadinya kesalahan yang disebabkan karena kurang sterilnya tempat praktikum. (Oetari, R.A, 2018)
Ada lima metode yang dilakukan dalam praktikum kali ini, yaitu kelompok A1 melakukan metode pewarnaan pada kapang dilakukan dengan cara kultur sampel, yaitu Aspergillus sp diambil sedikit dengan jarum, dilakukan secara aseptis dengan cara tangan dan meja dibersihkan dengan alkohol dan jarum N dipanaskan di atas api bunsen hingga berwarna merah, kemudian kultur yang telah diambil diletakkan pada kaca preparat yang sebelumnya sudah dibersihkan dengan alkohol agar tidak ada mikroorganisme kontaminan lain yang dapat mengganggu pengamatan. Lalu ditambah larutan laktofenol blue. Dalam laktofenol blue terdapat fenol yang membunuh mikroorganisme, asam laktat yang mempertahankan struktrur jamur dan pewarna biru yang mewarnai chitin yang terdapat dalam dinding sel jamur (Wanger et al, 2017). Setelah itu, kaca preparat ditutup dan diamati dengan mikroskop. Hasil yang didaptkan Aspergillus sp berwarna hitam karena miselium Aspergillus sp berwarna hitam, serta Aspergillus sp berbentuk coccus, memiliki spora yang berbentuk coccus kecil-kecil yang berwarna hitam, sedangkan sporangium berbentuk coccus besar berwarna hitam dan sporangiofor seperti pita panjang yang berwarna biru.

Kelompok A2 melakukan metode pengecatan sederhana dilakukan dengan cara kultur sampel, yaitu Lactobacillus plantarum diambil dengan jarum ose yang sebelumnya sudah dipijarkan, lalu diletakkan di atas kaca preparat yang sudah dibersihkan dengan alkohol dan diberi aqudes steril 1 tetes karena kultur bakteri yang digunakan bukan kultur bakteri cair. Lalu kaca preparat difiksasi agar bakteri menempel dan struktur bakteri tidak rusak. Setelah itu, diberi zat warna methylen blue (zat warna yang sering digunakan dalam pewarnaan sederhana), didiamkan, lalu dibilas dengan air mengalir yang tidak deras. Kemudian dikeringkan dan diamati dengan mikroskop. Hasil dari pengamatan Lactobacillus plantarum berbentuk bacillus sesuai dengan nama bakterinya dan berwarna biru karena zat warna methylen blue melekat pada Lactobacillus plantarum.

Kelompok A3 dan A4 melakukan pewarnaan Gram. Pewarnaan Gram dilakukan dengan cara kultur sampel, yaitu Escherichia coli (kelompok A3) dan Sthapylococcus aureus (kelompok A4) diambil dengan jarum ose yang sebelumnya sudah dipijarkan, lalu diletakkan di atas kaca preparat yang sudah dibersihkan dengan alkohol dan diberi aqudes steril 1 tetes. Lalu kaca preparat difiksasi agar bakteri menempel dan struktur bakteri tidak rusak saat proses pewarnaan. Setelah itu, diberi zat warna violet kristal sebagai pewarna pertama (primary stain), didiamkan. Lalu kaca preparat dibilas dengan air mengalir yang tidak deras dan dikeringkan. Kemudian ditetesi dengan larutan lugol (sebagai mordant untuk meningkatakn afinitas antara sel mikroorganisme dengan zat pewarna), didiamkan. Lalu kaca preparat dibilas dengan air lagi. Kemudian, warnanya dihilangkan dengan menggunakan alkohol 95% sampai warna biru tidak luntur lagi Setelah itu, diberi zat warna safranin (sebagai counter stain atau warna pembanding), didiamkan, lalu kaca preparat dibilas dengan air lagi. Kemudian dikeringkan hingga mengering dan diamati dengan mikroskop. Hasil yang didapatkan setelah pengamatan bakteri Escherichia coli berwarna merah karena merangkap zat warna safaranin (merupakan bakteri Gram-negatif) dan berbentuk coccus, Sedangkan Sthapylococcus aureus, berwarna ungu (merupakan bakteri Gram-positif) karena merangkap zat pewarna violet kristal dan berbentuk coccus sesuai dengan nama bakterinya. Hasil pengamatan tersebuat sama dengan jurnal yang ditulis oleh Rahayu dan Gumilar (2017) yang menuliskan pada pengujian pewarnaan Gram bakteri Escherichia coli adalah bakteri Gram-negatif, karena sel bakteri Gram-negatif jika bertemu dengan alkohol akan melarutkan lemak lapisan luar dinding sel sehingga zat warna violet kristal yang menempel pada dinding sel akan hilang saat pencucian pertama dan mengikat zat warna tandingan. Sedangkan Gram-positif mempertahankan warna ungu dari pewarna primer. Hal tersebut juga tidak jauh berbeda dengan jurnal yang ditulis oleh Hiremath dan Bannigidad (2011) yang menuliskan tentang perbedaan antara Gram-positif dan Gram-negatif dilihat dari struktur dinding sel bakteri tersebut. Bakteri Gram-positif memiliki lapisan peptidoglikan yang tebal sehingga dapat mempertahankan warna ungu, sedangkan bakteri Gram-negatif memiliki lapisan peptidoglikan yang tipis berdekatan dengan sitoplasma sehingga tidak dapat mempertahankan warna ungu saat dekolorasi dengan etanol.

Kelompok A5 melakukan metode pewarnaan spora bakteri yang dilakukan dengan cara kultur Bacillus cereus diambil dengan jarum ose yang sebelumnya sudah dipijarkan, lalu diletakkan di atas kaca preparat yang sudah dibersihkan dengan alkohol dan diberi aqudes steril 1 tetes karena kultur bakteri yang digunakan bukan kultur bakteri cair. Lalu kaca preparat difiksasi agar bakteri menempel dan struktur bakteri tidak rusak. Setelah itu, diberi zat warna malachite green (zat warna yang biasa digunakan dalam pewarnaan spora) dan dipanaskan di atas penangas air untuk membantu zat warna malachite green masuk kedalam dinding spora (Murwani, 2015). Kemudian kaca preparat dibilas dengan air mengalir yang tidak deras dan dikeringkan. Setelah itu, diwarnai dengan safranin (counter stain) dan didiamkan, lalu kaca preparat dibilas dengan air lagi, dikeringkan hingga mengering. Setelah itu, preparat diamati dengan mikroskop. Hasil setelah diamati spora bakteri Bacillus cereus berwarna hijau karena merangkap zat pewarna malachite green, menandakan dalam bentuk endospora (Murwani, 2015) dan berbentuk bacillus.

Terakhir, kelompok A6 melakukan metode pewarnaan spora yeast dilakukan dengan kultur Saccharomyces cereviceae diambil dengan jarum ose yang sebelumnya sudah dipijarkan, lalu diletakkan di atas kaca preparat yang sudah dibersihkan dengan alkohol dan diberi aqudes steril 1 tetes. Lalu kaca preparat difiksasi agar yeast menempel dan struktur yeast tidak rusak. Setelah itu, diberi zat warna larutan violet kristal dan dipanaskan di atas penangas air untuk membantu zat warna violet kristal masuk kedalam dinding spora. Lalu kaca preparat dibilas dengan air mengalir yang tidak deras. Setelah itu, warnanya dihilangkan dengan menggunakan alkohol 95% sampai warna biru tidak luntur lagi, dikeringkan. Kemudian diwarnai dengan larutan fuchsin (counter stain) dan didiamkan, lalu kaca preparat dibilas dengan air lagi dan dikeringkan hingga mengering. Kemudian kaca preparat diamati dengan mikroskop. Setelah diamati spora yeast Saccharomyces cereviceae berbentuk coccus dan berwarna ungu karena merangkap zat warna violet kristal.

6. KESIMPULAN
Mikroskop digunakan untuk melihat benda –benda yang ukurannya tidak bisa dilihat dengan kasat mata.

Mikroskop memiliki 2 macam lensa yaitu lensa objektif dan lensa okuler.

Lensa objektif adalah lensa yang dekat dengan objek.

Lensa okuler adalah lensa yang dekat dengan mata pengamat.

Bayangan akhir dari mikroskop yaitu semu, terbalik, dan diperbesar.

Metode pewarnaan dibagi menjadi tiga jenis metode pewarnaan, yaitu pewarnaan sederhana, pewarnaan diferensial, dan pewarnaan khusus.

Pewarnaan sederhana adalah metode pewarnaan menggunakan satu zat warna.

Pewarnaan sederhana menggunakan zat warna methylen blue.

Pewarnaan diferensial dibagi menjadi dua, yaitu pewarnaan gram dan pewarnaan acid-fast stain.
Pewarnaan khusus untuk melihat bagian tertentu dari bagian mikroorganisme, seperti endospora, flagella, dan kapsula.
Bakteri Gram-positif memiliki dinding sel yang tebal sehingga mampu mempertahankan warna ungu.
Sedangkan Gram-negatif adalah bakteri yang memiliki dinding sel yang tipis sehingga tidak dapat mempertahankan warna ungu setelah dekolorasi dengan etanol.

Pewarnaan Gram menggunakan 2 pewarna, yaitu violet kristal dan saranin.

Endospora merupakan bentuk inktif dari bakteri (domant).

Bentuk endospora berfungsi melindungi bakteri dari kondisi tidak menguntungkan.
Spora hanya biasa diwarnai dengan pewarna khusus karena pewarna biasa tidak dapat menembus dinding spora.

Pewarnaan spora menggunakan pewarna malachite green, safranin, dan fuchsin.

Post Author: admin